Jember (beritajatim.com) – Komisi D DPRD Kabupaten Jember menyoroti sistem manajemen informasi Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi yang berstatus rumah sakit tipe B pendidikan dan menjadi rujukan di Jawa Timur bagian timur.
Saat melakukan inspeksi dadakan (sidak) ke RSD dr. Soebandi, Jumat (27/2/2026), Achmad Dhafir Syah, anggota Komisi D dari Partai Keadilan Sejahtera, disuguhi tidak berfungsinya dashboard.
Dashboard adalah alat manajemen informasi dan visualisasi data yang menampilkan metrik utama, KPI (Key Performance Indicators), dan data penting lainnya dalam satu layar, biasanya secara real-time atau terbarukan.
“Ketika kami bertanya kepada kepala instalasi atau wakil kepala instalasi rawat inap, seharusnya tidak perlu masih utik-utik cari data. Seharusnya sudah tahu. Syukur-syukur kalau punya dashboard seperti halnya masa pandemi Covid, sudah update datanya,” kata Dhafir.
Dhafir meminta manajemen RSD dr. Soebandi tidak meremehkan dashboard. Gara-gara dashboard terbengkalai ini, dia sempat marah ketika mengunjungi RSD beberapa waktu lalu.
“Tidak ada satupun informasi yang di-updating. Seharusnya dengan aplikasi SIMRS (Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit), sudah bisa update,” katanya.
Melihat tidak difungsikannya dashboard, Dhafir sempat meminta agar peralatan itu dicopot. “Buat apa kalau tidak update. Mahal-mahal kita bayar aplikasi software SIM RS, tapi tidak dipakai,” katanya.
Kritik juga dilontarkan Alfian Andri Wijaya, anggota Komisi D dari Partai Gerindra, “Ketika kami meminta data pasien yang dioperasi dan tidak operasi, ternyata data tidak berbasis digital. Jadi bisa diubah-ubah. Data ini seharusnya berbasis digital, sudah tersistem, dan secara administrasi mudah diakses,” katanya.
Pegawai RSD dr. Soebandi masih sibuk mencari fail data yang diminta anggota Dewan di komputer dan mencetaknya di atas kertas. Sebagian data bahkan hanya ditulis tangan di buku tulis besar.
Pelaksana Tugas Direktur RSD dr. Soebandi, I Nyoman Semita, menyebut pegawai rumah sakitnya masih terbiasa dengan cara-cara ketinggalan zaman.
“Ibarat kalau zaman dulu kita dikirimi uang pakai wesel, sampainya dua minggu, sekarang satu menit sudah sampai. Nah, pikiran teman-teman itu masih lama. Jadi minta laporan dari kertas lagi. Tujuan efisiensi pengeluaran tidak tercapai,” kata Semita.
“Masalah digitalisasi ini memang bikin gatal rasanya. Saya ingin Februari ini sudah digital di seluruh rumah sakit. Tapi ternyata kami belum bisa merealisasikan. Jadi mohon maaf. Dengan digitalisasi seharusnya kami bisa efisiensi 10 sampai 15 persen dari pendapatan,” kata Semita
Semita berjanji akan memperbaiki hal ini. Dimulai dengan meletakkan semacam Smart TV di Instalasi Gawat Darurat sebagai sarana informasi yang bisa menenangkan hati keluarga dan pasien. [wir]






