Bojonegoro (beritajatim.com) – Pasca putusnya jembatan yang ada di Desa Turi, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro setahun lalu, belum ada penanganan lebih lanjut hingga sekarang. Sehingga terpaksa, warga setempat harus menyeberangi sungai untuk melewatinya.
Kepala Desa Turi Kecamatan Tambakrejo Riyadi mengungkapkan, hingga saat ini belum ada tindaklanjut dari dinas terkait. Padahal, kabarnya jembatan tersebut, telah masuk dalam Bantuan Keuangan Khusus Desa (BKKD) P-APBD 2023.
“Dulu dapat info, masuk BKKD P-APBD 2023, tetapi sampai sekarang belum ada info dan juga tindaklanjutnya lagi,” ujar Riyadi, Kamis (30/11/2023).
Sebagai kepala desa, ia sering kali mendapat tekanan dari warga agar segera membangun jembatan yang putus diterjang arus sungai tersebut. Sebab, jalur alternatif yang ada jaraknya sangat jauh. Sehingga, tak banyak warga harus lewat jalur alternatif.
Jalur alternatif yang dimaksud adalah jalan setapak di wilayah Perhutani. Jaraknya sekitar 2 kilometer lebih jika dibanding melewati akses jembatan yang putus. “Saya pribadi sampai malu sama warga sekitar, karena belum dapat terealisasi,” terangnya.
BACA JUGA: Jembatan di Tambakrejo Bojonegoro Putus Usai Diguyur Hujan
Jika musim panas, lanjut Riyadi, warga masih bisa melewati sungai tersebut, lantaran sungainya kering. Namun, jika memasuki musim penghujan, warga sudah tak bisa melintas. Bahkan mirisnya, para warga yang sakit atau meninggal harus ditandu untuk melewati arus sungai.
“(Kalau musim hujan) penuh arusnya juga deras, kalau misal keluar (alternatif) lewat muter ke desa tetangga wilayah Desa Nglampin, Kecamatan Ngambon,” pungkasnya.
Perlu diketahui, jembatan tersebut, merupakan satu-satunya akses warga Dukuh Jagiran RT 18. Jembatan yang memiliki panjang 25 meter dengan lebar 4 meter itu putus pada 4 November 2022 lalu. Akibatnya terdapat 27 kartu keluarga (KK) di Dukuh Jagiran yang terisolir karena putusnya jembatan itu. [lus/suf]






