Malang (beritajatim.com) – Dr. Eng. Herman Tolle, ST., MT., salah dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (Filkom UB) menyampaikan bahwa teknologi ChatGPT tidak bisa dihindari dalam dunia pendidikan. ChatGPT dapat menjadi alat yang mendukung produktivitas dan inovasi dalam proses belajar-mengajar.
Dr. Herman mengungkapkan bahwa ChatGPT memiliki potensi besar untuk mempercepat berbagai pekerjaan akademik.
Teknologi ini, menurutnya, dapat disamakan dengan kemunculan kalkulator atau komputer di masa lalu, yang awalnya menuai keraguan namun terbukti sangat bermanfaat.
“Dengan ChatGPT, dosen dapat lebih mudah membuat materi kuliah, menulis artikel ilmiah, atau bahkan menyusun buku. Selain itu, teknologi ini juga mampu menangani tugas teknis seperti menulis kode program dan menganalisis data,” jelas Dr. Herman, pakar teknologi dari UB Malang.
ChatGPT ini bisa kita analogikan sebagai alat bantu, sama seperti awal kemunculan kalkulator, atau computer, mobile phone atau tools lain yang dianggap membuat manusia semakin bodoh. Namun, faktanya tidak demikian, jika bisa memanfaatkan tools dengan tepat maka akan memberikan banyak manfaat.
“Kita dalam dunia Pendidikan khususnya, tools ChatGPT bisa membantu kita menyelesaikan pekerjaan yang kadang butuh waktu lama, misal bagi dosen untuk membuat materi kuliah, menulis artikel ilmiah, menulis buku, bisa sangat membantu, alat ini bahkan bisa melakukan hal lebih teknis seperti membuat kode program atau analisa data,” ujar pengajar Augmented & Virtual Reality tersebut.
Menurut Herman hal yang dihasilkan dari ChatGPT adalah analisis dari database yang sangat besar yang dikenal dengan istilah LLM (Large Language Model). Alat ini belajar dari database tersebut dan bisa memahami cara berpikir manusia.
“Tidak semua data itu valid, jadi dalam penggunaan ilmiah kita sebagai pengguna bertanggungjawab atas sesuatu yg kita hasilkan dari ChatGPT, jika perlu harus mencantumkan sumbernya,” ujar dosen Augmented & Virtual Reality tersebut.
Terdapat isu lain terkait pengerjaan tugas kuliah yang menggunakan ChatGPT. Menurut Herman, adanya teknologi ini sangat membantu pekerjaan dalam dunia pendidikan dan bagi dosen harus lebih pintar dan kreatif untuk memberikan penugasan ke mahasiswa.
“Yang bisa lebih melihat kemampuan mahasiswa tidak sekedar tugas yang dikerjakan dalam bentuk dokumen yang oleh mahasiswa bisa saja diperoleh dari ChatGPT. Misalkan tugas mahasiswa wajib dipresentasikan, tidak sekedar mengumpulkan dokumen saja,” ujar Herman, menutup. (dan/ted)






