Jember (beritajatim.com) – Nahdlatul Ulama dan Hanan Attaki akan berkolaborasi mengembangkan dakwah ala ‘Wali Songo’ di kalangan anak muda, terutama di wilayah perkotaan atau urban.
“Saya ingin berbagi dengan teman-teman dai-dai muda NU supaya kita bisa sama-sama berkolaborasi dalam menggarap dakwah anak muda milenial di seluruh Indonesia,” kata Hanan, usai pengajian di Masjid Pondok Pesantren Riyadlus Sholihien, di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (2/6/2023) malam.
“Selama ini saya melakukannya sendiri. Sekarang saya insyallah mudah-mudahan bisa berkolaborasi dengan dai-dai muda NU dengan lebih massif lagi, lebih baik lagi. Sehingga anak-anak muda Indonesia ini setelah hijrah benar-benar menjadi ahlussunnah wal jamaah. The real aswaja,” kata Hanan.
Hanan tidak akan mendefinisikan sendiri arti ahlussunah wal jamaah. “Itu bukan kapasitas saya. Saya manut kepada dawuh kiai yang mendefinisikan ahlusunnah wal jamaah. Tugas saya sebagai dai di kalangan anak muda adalah menerjemahkan dawuh para kiai dalam bahasa anak muda,” katanya.
Hanan mengatakan saat ini banyak orang yang percaya diri membuat definisi hak dan batil dengan hanya berlandaskan pada jargon ‘kembali kepada Alquran dan sunnah’. “Ada yang mengatakan ‘jangan fanatik kepada ulama’, karena mereka manusia, kita manusia. Padahal antara ulama dengan orang yang tak berilmu tidak sama,” katanya.
Ustaz kelahiran 1981 ini tak akan menyentuh dakwah di dunia politik. “Saya masih berkonsentrasi di dunia pendidikan dan kultural. Saya tidak berpengalaman di dunia politik, jadi saya akan berfokus di pendidikan dan kultural,” katanya.
Sementara itu, Wakil Bendahara Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur dan Bendahara Yayasan Nusa Bangsa Indonesia Mahathir Muhammad mengatakan, Hanan Attaki bisa menjadi napas dan energi baru untuk penguatan ahlusunnah wal jamaah di kalangan milenial urban. “Memperluas dakwah NU dengan style ala anak muda milenial. Ini urusan packaging saja. Yang penting kontennya ahlusunnah wal jamaah,” katanya.
Mahathir adalah bagian dari kelompok yang menyuarakan penolakan terhadap pengajian Konser Langit Hanan Attaki di Jember pada medio Juli 2022. Namun yang harus diluruskan, penolakan yang kami lakukan bukan karena Ustaz Hanan Attaki, tapi lebih pada personal yang mengagendakan acara tersebut,” katanya.
Menurut Mahathir, ada indikasi acara tersebut digelar oleh aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). “Kami takut Hanan Attaki dimanfaatkan sebagai magnet yang menarik milenial-milenial di Jember, yang setelah Ustaz Hanan Attaki berceramah, mereka (HTI) yang menggarap,” katanya. Majelis Gaul yang mengundang Hanan Attaki waktu itu menampik tudingan tersebut.
Setahun setelah penolakan, Mahathir bersama Yayasan Nusa Bangsa Indonesia menjadi pemkarsa kedatangan Hanan ke Jember. “Setelah ada agenda (baiat) Hanan Attaki bersama KH Marzuki Mustamar, saya menilai ini adalah momentum strategis untuk berkolaborasi dakwah. Saya sadar bahwasanya ceruk-ceruk milenial urban itu jarang digarap dai-dai muda NU,” katanya.
Sebagai awal, Hanan berkolaborasi dalam pengajian yang diasuh Gus Fikri atau KH Mushoddiq Fikri Farouq Jumat (2/6/2023) malam. “Kolaborasi dakwah ini harus menjadi sesuatu yang terus digelorakan: bagaimana penguatan dakwan ahlussunnah wal jamaah memiliki semangat kolaboratif. Bukan konftrontatif,” kata Mahathir.
Mahathir sudah berdiskusi dengan Hanan Attaki. “Melalui Yayasam Nusa Bangsa Indonesia, kami akan membuat pelatihan-pelatihan dengan mengajak dai-dai NU di Jatim. Kita pilih yang alim, good looking, punya public speaking bagus. Kita ajak ke Bandung, ke basecamp Hanan Attaki. Kita berbagi seperti apa sih menggarap segmen milenial,” katanya.
“Dalam strategi dakwah ini kan ada aspek sosiologis, antropologis yang kita harus bisa beradaptasi. Ini sebenarnya semangat wali Songo. Spiritnya sama,” kata Mahathir. Dalam waktu dekat dai-dai muda di Jember akan diajak melihat dari dekat cara Hanan Attaki memikat audiens. [wir]






