Jember (beritajatim.com) – Silaturahim Musyawarah Warga (Musra) Nahdlatul Ulama Kabupaten Jember, Jawa Timur, ingin mengulang kemenangan telak Joko Widodo dalam pemilihan presiden untuk Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar pada 2024.
Dalam Pilpres 2019, Jokowi – Ma’ruf menang di 29 kecamatan dengan perolehan 891.208 suara. Sementara, Prabowo Subianto – Sandiaga Uno saat itu hanya menang di dua kecamatan dengan perolehan 483.786 suara.
“Soliditas warga NU sudah teruji ketika memenangkan pasangan Jokowi dan KH. Ma’ruf Amin pada Pemilihan Presiden 2019,” kata Fuad Ahsan, dari Pondok Pesantren Al Amien, Sabrang, Kecamatan Ambulu, dalam musyawarah di Gedung Organisasi Wanita yang diikuti sekitar 500 orang perwakilan warga NU dari 31 kecamatan, Selasa (11/7/2023).
Muhaimin menjadi satu-satunya opsi calon presiden warga NU Jember karena beberapa alasan. “Gus Muhaimin telah Berjuang untuk Nahdlatul Ulama selama puluhan tahun dan telah mengawal ditetapkannya 22 Oktober sebagai Hari Santri yang bertepatan dengan perjuangan Resolusi Jihad NU,” kata Fuad.
Muhaimin juga dianggap berjasa mengawal disahkannya Undang-Undang Pesantren. “Dia telah mengawal ditetapkannya Undang-Undang Desa sebagai bukti keberpihakannya kepada kaum mustad’afin,” kata Fuad membacakan keputusan musyawarah tersebut.
Warga NU di Jember adalah yang pertama kali menetapkan Muhaimin sebagai Panglima Santri yang mengawal seluruh ijtihad serta cita-cita santri seluruh Indonesia. “Gus Muhaimin juga kader NU tulen dan merupakan cucu dari muassis Nahdlatul Ulama KH. Bisri Syansuri,” kata Ahsan.
KH Yazid Hobir dari Pondok Pesantren Mambaul Khoirot menegaskan, berdasarkan survei, tak ada kandidat presiden saat ini yang stabil memperoleh suara di atas 30 persen. Di sini peluang untuk mengusung kader NU menjadi kandidat presiden sangat terbuka.
“Suara besar milik kita akan jadi rebutan calon. Sementara aspirasi kita masih banyak. Bagaimana kalau kita mengusung calon sendiri daripada calon-calon yang ada yang belum jelas ke-NU-annya? kata Yazid.
Yazid menegaskan perlunya NU untuk melakukan ‘politik kiai’. “Bersama-sama untuk mengegolkan sebuah cita-cita dan menyampaikan aspirasi masyarakat kepada calon presiden yang akan kita usung,” katanya disambut tepuk tangan.
Keputusan Silaturahim Musyawarah Warga Nahdlatul Ulama Kabupaten Jember ini akan disosialisasikan kepada seluruh pondok pesantren, kiai, dan santri. “Aspirasi kita tidak mungkin dititipkan kepada orang lain, kepada calon presiden yang lain, karena tidak tahu kondisi Nahdlatul Ulama di bawah. Kalau kader milik kita pasti tahu,” kata Yazid.
Musra NU Jember mendesak Partai Kebangkitan Bangsa agar segera berkoalisi dengan partai lain untuk mengusung Muhaimin. “Kita tidak mungkin berjalan sendiri,” kata Yazid. [wir]






