INISIAL FC Barcelona dan Bayern Munchen identik dengan FCB. Dua tim ini juga memiliki masalah yang sama persis; ketiadaan pemain ikonik. Sepeninggal Lionel Messi pada 2021 untuk FCB dan kepergian Thomas Muller per musim depan untuk Bayern.
Tetapi, untuk musim depan, dua klub tersebut cukup tenang. Entry by name pemain ikon sudah dilakukan. Mereka bahkan belum berusia 23 tahun. Ya, dua pemain itu adalah Lamine Yamal dan Jamal Musiala yang dipercaya mengenakan nomor 10.
Selama ini, kontribusi mereka berdua memang sudah sangat besar bagi FCB dan Bayern. 25 gol dan 34 assist dari 106 laga jadi bukti sumbangsih Yamal untuk Blaugrana. Dia mempersembahkan 4 trofi meski masih baru berusia 18 tahun pada 13 Juli mendatang.
Yamal bahkan tercatat sebagai pemilik nomor 10 termuda dalam sejarah FCB. Lionel Messi berusia 21 tahun ketika menyandang nomor 10 pada 2008 mewarisi Ronaldinho.
Musiala setali tiga uang. Berusia lebih tua 4 tahun dari Yamal, Musiala telah memberikan Bayern 11 trofi. Dia juga menyumbang 64 gol dan 39 assist dari 206 laga. Musiala jadi pemilik nomor 10 termuda bagi Bayern sejak Mehmet Scholl melakukannya pada musim 1992–1993 ketika usianya kala itu juga 22 tahun.
“Ketika usiaku 22 tahun nanti, bersiaplah dunia. Aku dan FCB tidak terhentikan,” ujar Yamal dilansir Sky Sports ketika mempromosikan jersey baru FCB untuk musim depan.
Di atas kertas, mereka telah teruji jadi andalan. Tetapi, ya sesuai ucapan Yamal tadi, sikap pongah jadi satu-satunya poin minus yang bisa menghambat.
Berbeda dari Musiala yang lebih kalem, Yamal memang sering menebar psywar. Bahkan, dia juga berkuasa mengatur FCB. Seharusnya, dia telah diumumkan sebagai pemilik nomor 10 selanjutnya kemarin. Sedangkan Bayern telah mengumumkan nomor 10 Musiala dua hari lalu.
Hanya, jbolan La Masia itu menolaknya. Dia ingin pengumuman dilakukan di hari ulang tahunnya yang ke-18 pada 13 Juli mendatang. Hari yang sama sekaligus jadi pengumuman perpanjangan kontraknya dengan klausul pelepasan EUR1 miliar (Rp 19,1 triliun).
Padahal, nomor 10 ini adalah pengalaman pertama dalam karier profesional Yamal. Sedangkan Musiala telah menyandang nomor keramat tersebut di dua tahun terakhir bersama timnas Jerman.
Tekanan bagi Yamal dan Musiala bukan sekadar dari diri sendiri dengan nomor 10. Melainkan tuntutan untuk mengembalikan lagi magis nomor 10 yang sempat hilang. FCB mengalaminya sejak 2021 ketika Messi ke Paris Saint-Germain. Sedangkan Bayern menderita sejak dua tahun sebelumnya ketika Arjen Robben pulang kampung ke FC Groningen.
“Sejak kecil, aku selalu bermimpi bisa mengenakan nomor 10,” ucap Musiala.
Yamal dan Jamal. Sama seperti inisial FCB dan Bayern. Terdengar dan terlihat identik. Tetapi, hasil akhir bisa berbeda. Antara terbebani atau termotivasi nomor 10. (dio)





