Gresik (beritajatim.com) – Memasuki musim tanam bulan April hingga September 2024, anggota holding Pupuk Indonesia, Petrokimia Gresik menyiapkan stok pupuk bersubsidi sebanyak 361.487 ton. Stok tersebut dihitung cukup untuk kebutuhan petani.
Stok pupuk bersubsidi terdiri dari pupuk 89.179 ton, lima kali lipat lebih banyak dari ketentuan minimum yang diatur oleh pemerintah sebesar 13.468 ton. Kemudian NPK subsidi 272.308 ton atau dari stok minimum yang ditetapkan yaitu 50.619 ton.
“Persediaan pupuk subsidi tersebut sudah berada di gudang-gudang kami hingga lini III atau gudang yang berada di kabupaten/kota. Jadi petani tidak perlu kuatir. Kebutuhan pupuk bersubsidi petani memasuki musim tanam April-September telah tercukupi,” ujar Dirut Petrokimia Gresik, Dwi Satryo Annurogo, Kamis (18/4/2024).
Ia menjelaskan pupuk bersubsidi yang disalurkan sesuai dengan regulasi. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permentan) nomor 10 Tahun 2022, petani yang berhak wajib tergabung dalam kelompok tani, terdaftar dalam Sistem Informasi Manajemen Penyuluh Pertanian (SIMLUHTAN), menggarap lahan maksimal dua hektare, dan menggunakan Kartu Tani (untuk wilayah tertentu).
“Pupuk bersubsidi ini peruntukannya juga dibatasi untuk sembilan komoditas pertanian strategis yang berdampak terhadap inflasi. Yaitu padi, jagung, kedelai, cabai, bawang merah, bawang putih, tebu rakyat, kakao, dan kopi.
“Baik itu Urea maupun NPK hanya bisa didapatkan petani di kios-kios resmi yang telah ditunjuk untuk melayani kelompok tani setempat. Petani jangan sampai tertipu dengan pupuk palsu yang banyak beredar,” paparnya.
Masih terkait dengan pupuk bersubsidi, Dwi Satryo Annurogo menyadari tidak semua petani di Indonesia mendapatkan. Untuk itu, pihaknya juga memberikan solusi melalui pupuk nonsubsidi mengingat pupuk menjadi kebutuhan yang sangat vital bagi budidaya pertanian.
Adapun stok pupuk nonsubsidi yang telah disiapkan Petrokimia Gresik totalnya mencapai 69.398 ton dengan rinciannya Urea sebanyak 8.744 ton dan NPK 60.654 ton.
“Kami berharap, pupuk tersebut bisa dioptimalkan petani untuk mendorong produktivitas pertanian di tahun 2024, sehingga berhasil meningkatkan kesejahteraan bagi petani,” pungkasnya. [dny/but]






