Surabaya (beritajatim.com) – Jawa Timur tengah menghadapi wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Minimnya edukasi untuk peternak dinilai menjadi penyebab sulitnya pengendalian penyakit ini.
Dosen Biologi Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya Nur Hidayatullah Romadhon menjelaskan bahwa lonjakan kasus PMK pada awal Desember 2024 dipicu oleh perubahan cuaca saat pancaroba.
Menurutnya, pengalaman wabah PMK sebelumnya, terutama pada tahun 2022, menunjukkan betapa cepatnya penyebaran penyakit ini ke berbagai daerah, termasuk di Jawa Timur. Kesalahan utama yang memperburuk kondisi adalah kurangnya antisipasi dari peternak.
“Peternak sering mengabaikan pentingnya biosekuriti, seperti jarang melakukan disinfeksi kandang, peralatan, dan kendaraan pengangkut ternak. Ini memungkinkan virus dengan mudah menyebar,” ungkap Dayat, Senin (6/1/2025).
Selain itu, hewan yang sakit sering kali tidak dilaporkan karena kekhawatiran akan kehilangan penghasilan atau ketidaktahuan mengenai pentingnya pelaporan dini kepada Dinas Peternakan.
“Lalu lintas ternak yang tidak diawasi dengan baik juga mempercepat penyebaran virus antar daerah,” katanya.
Dayat mengungkapkan, keterbatasan informasi dan pemahaman tentang PMK di kalangan peternak juga memperburuk situasi. Minimnya edukasi membuat peternak kesulitan mendeteksi gejala awal atau mengambil langkah pencegahan yang tepat, sehingga penyebaran wabah menjadi sulit dikendalikan.
Hal yang sering terabaikan adalah vaksinasi hewan ternak yang belum menjadi prioritas bagi sebagian besar peternak, baik karena faktor biaya maupun kurangnya pengetahuan tentang pentingnya vaksinasi rutin.
“Selain itu, faktor nutrisi yang buruk pada ternak juga menjadi salah satu pemicu, karena hewan yang memiliki daya tahan tubuh rendah lebih rentan terhadap infeksi,” imbuh Dayat.
Menurutnya, kesalahan-kesalahan ini berdampak sangat besar, baik dari segi kerugian ekonomi maupun dampak jangka panjang terhadap produksi ternak. Untuk itu, ia menekankan pentingnya edukasi yang lebih intensif, pengawasan yang ketat, dan kolaborasi erat antara pemerintah, peneliti, dan peternak.
“Penelitian lebih lanjut mengenai vaksin yang lebih efektif dan metode pengendalian yang efisien sangat dibutuhkan untuk menanggulangi wabah ini,” ujarnya.
Langkah-langkah seperti vaksinasi massal, peningkatan biosekuriti, serta pendampingan bagi peternak harus menjadi prioritas utama dalam mengatasi wabah ini.
Kolaborasi antara semua pihak diharapkan mampu mencegah penyebaran PMK di masa depan dan melindungi sektor peternakan yang sangat penting bagi perekonomian daerah. [ipl/ian]






