Pasuruan (beritajatim.com) – Kota Pasuruan ternyata punya permata di bidang kuliner. Salah satu yang menjadi andalan adalah Bandeng Jelak. Sayangnya, kelezatan Bandeng Jelak tidak banyak dikenal. Bahkan kalah populer dengan produk olahan ikan bandeng dari daerah lain.
Bandeng Jelak khas Kota Pasuruan cita rasa yang berbeda dengan yang lainnya. Bagi para pecinta ikan air tawar ini pasti merasakan bau tanah saat dimakan. Namun Bandeng Jelak tak sedikitpun memiliki bau tanah saat masuk kedalam mulut penikmatnya. Namun sayangnya, pemasarannya masih menjadi tantangan tersendiri.
Konon, Bandeng Jelak berasal dari Desa Blandongan, Kecamatan Kota Pasuruan. Asal-usul penamaan “Jalak” sendiri masih simpang siur. Ada yang berpendapat bahwa sebutan tersebut berasal dari nama sang pembuat pertama, namun ada pula yang mengaitkannya dengan warna hitam pekat pada bandeng hasil pengasapan, serupa dengan burung Jalak.
Proses pembuatan Bandeng Jelak sangat beragam mulai dari dijadikan abon hingga dengan cara sederhana yakni dibakar. Bandeng Jelak sebenarnya juga tak istimewa dalam hal ukuran. Setiap ekor Bandeng Jelak hanya memiliki ukuran sekitar kurang dari 15 centimeter.
Banyak peminat yang selalu mencari-cari Bandeng Jelak ini. Namun nyatanya Bandeng Jelak tak sepopuler dengan Bandeng Juwana yang saat ini pemasarannya sudah menyebar hingga penjuru nusantara. Hal ini diungkapkan oleh salah salah satu pelaku UMKM Bandeng Jelak Kota Pasuruan, Nur Hayati.
Nur Hayati mengatakan bahwa setiap hari bisa menjual sekitar 50 ekor bandeng. Dirinya juga mengaku bahwa bandeng buatannya sudah sampai kota tetangga yakni Probolinggo, juga Malang.
“Kami di sini cuman punya empat kelompok UMKM untuk olahan Bandeng Jelaknya itu sendiri. Sedangkan untuk pemasarannya kami selalu mengandalkan sosial media Facebook dan dari mulut ke mulut,” terangnya.
Hayati tak memiliki niat untuk terus melebarkan sayap bisnis UMKM miliknya tersebut. Dirinya merasa sudah kelabakan memproduksi 50 ekor bandeng matang setiap harinya. Saat ditanya terkait campur tangan Pemkot Pasuruan, Hayati menjelaskan sering juga mendapat bimbingan teknis dari para Aparatur Sipil Negara (ASN). Namun hal tersebut tidak membantu perkembangan distribusi bandeng khas Kota Pasuruan.
“Saat ini kami para UMKM sedang fokus untuk memenuhi kebutuhan restoran, dan itu juga merupakan salah satu program pemerintah dalam meningkatkan ekonomi. Ditambah lagi setiap tahun pasti ada festival bandeng jelak yang juga bisa memperkenalkan bandeng ini kepada masyarakat luas, meski tidak sepopuler bandeng lainnya karena kami masih baru merintis 2019 lalu,” tutupnya.
Menelusuri Jejak Kelangkaan Bandeng Jelak
Meskipun memiliki cita rasa yang menggugah selera, Bandeng Jelak sulit ditemui di pasaran Pasuruan, apalagi di luar kota. Kelangkaan ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, minimnya regenerasi perajin. Generasi muda cenderung beralih ke pekerjaan yang dianggap lebih menjanjikan. Para perajin Bandeng Jelak pun kebanyakan berusia lanjut, dikhawatirkan tradisi pembuatan Bandeng Jelak akan punah seiring berjalannya waktu.
Hal ini kemudian terbukti dengan hanya empat UMKM yang mengurus olahan bandeng dengan ciri khas moncong merah. Tak hanya itu setiap UMKM hanya memiliki kurang lebih 10 orang ibu-ibu yang juga suaminya merupakan pengelola tambak bandeng.
Kedua, yakni stok bandeng yang masih belum mencukupi pasaran hingga luar Pasuruan. Karena minimnya tambak bandeng yang berada di Kota Pasuruan. Terbukti setiap tahunnya lahan Bandeng Jelak selalu menyusut. Seperti halnya pada tahun 2023 lalu, Pemkot Pasuruan telah meresmikan Perda RTRW Pasal 7 ayat (6), dimana lahan budidaya perikanan menyusut sangat besar.
Semula lahan budidaya ikan berkisar 600 hektare, mengkerut jadi 143 hektare lahan yang bisa digunakan budidaya perikanan termasuk Bandeng Jelak. Kepala Dinas Perikanan Kota Pasuruan, Mualif Arif melalui Analis Akuakultur Ahli Muda Dinas Perikanan Kota Pasuruan, Rosepta Dini Febriani, mengatakan total produksi ikan bandeng pada tahun 2023 mencapai 1.834.363 kilogram.
“Untuk total produksi bandeng setiap tahun selalu meningkat, seperti di tahun 2023 totalnya lebih dari 1,3 juta kilogram bandeng dari segala jenis. Sedangkan untuk total produksi olahan bandeng per bulan kurang lebih 10.049 kilogram,” ungkapnya.
Kemudian yang ketiga, yakni kurangnya perhatian terhadap pemasaran. Para perajin Bandeng Jelak umumnya hanya memasarkan produk mereka secara lokal, dari mulut ke mulut. Minimnya inovasi dalam pengemasan dan pemasaran membuat Bandeng Jelak kalah bersaing dengan oleh-oleh lain yang lebih gencar promosinya.
Meski selama ini Pemkot Pasuruan sudah bekerja sama dengan beberapa konten kreator asal Pasuruan namun masih juga belum bisa mengangkat citra Bandeng Jelak seperti Bandeng Juwana Semarang. Saat ini Pemkot sendiri tidak mempunyai tempat belanja khusus Bandeng Jelak yang bisa dihampiri oleh para wisatawan.
“Akan tetapi saat ini memang pemkot belum punya tempat belanja khusus untuk produk olahan Bandeng Jelak yang bisa di datangi wisatawan sewaktu-waktu. Semoga ke depan bisa ada sentra oleh-oleh Bandeng Jelak di Dinas Perikanan dengan konsep warung tanpa dapur,” harapnya.
Sementara jika dibandingkan dengan Bandeng Juwono yang menjadi produk kuliner andalan Semarang, pemerintah setempat sangat gencar untuk melakukan promosi di seluruh sektor. Mulai dari tatap muka antara pembeli dan penjual hingga melalui jejaring di semua kanal media sosial. Bahkan saat ini Pemkot Semarang sedang melakukan kerja sama dengan market place untuk distribusi produk bandeng miliknya.
“Tahun ini kami sedang melakukan diskusi dengan beberapa market place untuk kemudian mendukung produk Bandeng Juwana ini sendiri. Tentu harapannya untuk menyejahterakan para pelaku produk bandeng yang saat ini menjadi ciri khas Kota Semarang,” jelas Kabag Komunikasi Pimpinan dan Protokol Kota Semarang, Kartika Hedi Aji saat ditemui di kantornya.
Memecah Strategi Pemasaran Bandeng Jelak
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, bukan berarti masa depan Bandeng Jelak suram. Ada banyak cara agar produk perikanan asli Kota Santri ini menjadi sentra di kalangan pecinta kuliner. Menurut salah satu pakar komunikasi dan marketing dari Sekolah Tinggi Ilmu Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa AWS), Dr. Jokhanan Kristiyono bahwa branding dalam sebuah produk sangatlah lah penting.
Menurutnya branding sendiri merupakan proses pe”merek”an yang akan dikenal, dipahami dan diamini (dipercaya) oleh konsumen atau pasar. Ada bebeapa tingkatan branding, di antaranya brand image, brand awareness, dan brand loyalty. “Jadi proses ini berorientasi kepada konsumen, bahkan bisa menjadikan kebutuhan dan keinginan konsumen itu dasar dalam pengembangan produk. Harus diingat branding bukan marketing dan jelas-jelas bukan selling,” jelasnya.
Yokhanan sendiri juga menyarankan agar Pemkot Pasuruan tidak tergesa-gesa dalam menentukan penggunaan influencer selama pendistribusian produk. Namun, Pemkot harus menemukan permasalahan utama seperti kurangnya diferensiasi atau permasalahan dalam proses distribusi pasar. Sehingga dia menyarankan agar mengunggulkan marketplace dalam melakukan penjualan produk di era digital saat ini.
“Marketplace sangat diperlukan jika itu dibutuhkan untuk menjangkau pasar lebih luas. Ini juga menjawab jika itu masalahnya ada pada distribusi pemasaran produk, karena marketplace bisa meningkatkan jangkauan distribusi pemasaran. Tapi perlu dipahami lagi, apakah memang betul itu yang menjadi permasalahan utama dan target kita dalam memasarkannya,” tutupnya.
Upaya-upaya tersebut diharapkan dapat membawa Bandeng Jelak keluar dari “kepompongnya”. Dengan cita rasa yang khas dan proses pembuatan yang tradisional, Bandeng Jelak berpotensi menjadi oleh-oleh unggulan Kota Pasuruan dan semakin dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Bagi para wisatawan yang berkunjung ke Pasuruan, tak ada salahnya untuk mencicip Bandeng Jelak. Nikmati sensasi gurihnya bandeng asap yang dibuat dengan resep turun-temurun dan rasakan jejak sejarah kuliner Kota Pasuruan dalam setiap gigitannya. [ada/beq]








