Malang (beritajatim.com) – Sore hari saat sebagian besar orang memilih untuk berburu takjil atau bersantai menunggu azan Magrib, suasana di WW Gym Permata Jingga terasa berbeda. Pada salah satu sudut, Faruk (23) tampak sedang berjibaku dengan barbell. Terlihat, fokusnya saat itu adalah melatih bagian chest (dada).
Meski bibirnya tampak kering dan pucat karena menahan haus sejak subuh, sorot matanya menunjukkan determinasi yang luar biasa. Setiap repetisi bench press dilakukan dengan teknik yang baik.
“Jujur, haus itu pasti. Tapi puasa bukan halangan untuk tetap menjaga badan. Justru kalau tanpa aktivitas fisik, badan malah terasa lemas dan kaku. Dengan tetap latihan, aliran darah jadi lancar dan metabolisme tetap terjaga,” ungkap Faruk.
Tak jauh dari posisi Faruk, Tiara (26) juga sedang fokus melatih tubuhnya. Fokusnya hari itu adalah leg day. Ia tampak melakukan squat dan lunge dengan beban yang terukur. Keringat membanjiri kaus olahraganya, namun ayunan kakinya tetap kokoh, tidak menunjukkan tanda-tanda limbung.
Bagi Tiara, berolahraga saat puasa adalah cara untuk mencintai diri sendiri. “Kuncinya tahu batas. Saya tidak memaksakan beban yang sama seperti di hari biasa, tapi intensitasnya tetap dijaga agar otot tidak tidur. Rasanya jauh lebih segar saat berbuka nanti kalau sorenya sudah berkeringat,” tuturnya saat ditemui pada Jumat (21/2/2026) sore.
Pemandangan di tempat gym itu, diakui oleh Aji, salah seorang Customer Service di WW Gym Permata Jingga, memang lumrah terjadi saat Ramadan. Ia mengamati perubahan pola pengunjung selama bulan puasa. Menurutnya, ada pergeseran drastis pada jam olahraga.
“Selama Ramadhan, pengunjung jauh lebih padat di sore hari. Kalau pagi relatif sepi karena mungkin banyak yang masih menyimpan energi. Nah, malam juga tidak terlalu banyak mungkin karena waktu tarawih dan kami tutup operasional jam 20.00 WIB,” ujar Aji dengan ramah.
Semangat menjaga kebugaran ini tidak hanya terasa di pusat kebugaran komersial. Bergeser ke pusat kota, Universitas Negeri Malang menunjukkan komitmennya dalam mendukung gaya hidup sehat sivitas akademikanya. Fasilitas gym modern yang terletak di basemen Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) kini resmi beroperasi kembali dengan wajah baru.
Sempat vakum akibat hantaman pandemi COVID-19, gym ini kini bertransformasi menjadi oase bagi para pemburu kebugaran. Seluruh peralatannya telah diperbarui total sejak pertengahan 2025.
Rama, pengelola sekaligus mahasiswa S2 FIK UM, menceritakan perjalanan panjang fasilitas ini. “Jauh sebelum saya kuliah di sini, fasilitas gym ini sudah ada. Namun sempat vakum lama saat pandemi. Karena antusiasme mahasiswa, terutama dari FIK yang sangat tinggi, tahun lalu dibuka kembali dengan semua alat yang brand new,” kata Rama.
Meski berada di basemen, kenyamanan tetap menjadi prioritas utama. Ruangan luas tersebut dilengkapi dengan pendingin udara yang sejuk, kamar mandi yang bersih, serta area parkir yang memadai. Keunggulan utamanya adalah suasana yang tenang, sangat cocok bagi mereka yang ingin berolahraga dengan konsentrasi penuh tanpa gangguan kebisingan kota.
Dengan jam operasional mulai pukul 06.00 hingga 20.00 WIB, fasilitas ini menjadi solusi bagi siapa saja yang ingin tetap bugar meski di tengah jadwal kuliah atau kerja yang padat.
Tentu saja, berolahraga saat perut kosong memerlukan strategi. Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSI Unisma, dr. H. Hardadi Airlangga, Sp.PD, memberikan pandangan medisnya yang sangat berharga.
Menurut dr. Hardadi, puasa bukanlah alasan untuk berhenti bergerak secara total. Namun, diperlukan manajemen waktu dan intensitas yang cerdas.
1. Pilih Waktu yang Tepat (Ngabuburit)
Waktu terbaik untuk melakukan olahraga beban atau intensitas sedang adalah mendekati waktu berbuka. Hal ini bertujuan agar cairan tubuh yang hilang melalui keringat bisa segera digantikan saat azan Magrib berkumandang.
2. Penyesuaian Dosis (Intensitas)
Jika Anda terbiasa berolahraga di pagi hari, dr. Hardadi menyarankan untuk menurunkan dosisnya. “Misalnya, jika biasanya jogging lima kilometer dengan kecepatan tinggi, kurangi kecepatannya atau perpendek jarak tempuhnya. Tujuannya adalah menjaga kebugaran, bukan mengejar rekor pribadi,” jelasnya.
3. Malam Hari Bukan untuk Olahraga Berat
Banyak orang berpikir malam hari setelah berbuka adalah waktu yang bebas untuk angkat beban berat. Namun, dr. Hardadi justru menyarankan sebaliknya.
“Di malam hari, cukup lakukan stretching atau peregangan ringan. Hindari olahraga berat seperti gym di malam hari karena setelah seharian berpuasa, tubuh membutuhkan waktu untuk istirahat dan memulihkan energi,” tambahnya.
4. Tarawih Sebagai Sarana Olahraga Spirituil-Fisik
Menariknya, dr. Hardadi menyebutkan bahwa ibadah shalat Tarawih secara tidak langsung memiliki manfaat fisik yang signifikan. Gerakan shalat yang dilakukan secara berulang merupakan sarana olahraga fisik yang baik untuk kelenturan tubuh dan kesehatan jantung jika dilakukan dengan tuma’ninah.
“Semoga setelah satu bulan penuh menjalani Ramadhan, kita tidak hanya mendapatkan pahala, tetapi juga manfaat kesehatan yang paripurna,” kata dr. Hardadi menutup. (dan/kun)






