Malang (beritajatim.com) – Banyak orang mengira bulan Ramadan bisa menjadi momen untuk lebih hemat. Namun, kenyataannya, pengeluaran justru sering kali membengkak akibat berbagai kebutuhan tambahan, seperti agenda buka bersama (bukber), belanja baju baru, hingga membeli pernak-pernik Lebaran.
Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Iqbal Ramadhani Fuadiputra, mengungkapkan bahwa pola konsumsi selama bulan puasa sering kali lebih boros, terutama jika tidak dikelola dengan baik. Tanpa perencanaan yang matang, pengeluaran bulanan seseorang atau keluarga bisa meningkat drastis.
“Salah satu penyebab utama adalah ajakan berbuka bersama yang datang dari berbagai kelompok, seperti teman kerja, sahabat lama, hingga keluarga besar,” jelasnya, Rabu (12/3/2025).
Untuk menghindari pemborosan selama Ramadan, Iqbal menyarankan beberapa langkah strategis. Pertama, masyarakat disarankan untuk mulai menyiapkan dana silaturahmi jauh hari sebelumnya dengan menyisihkan sebagian penghasilan dari bulan-bulan sebelumnya. Dengan cara ini, ajakan bukber tidak akan terlalu membebani keuangan.
Selain itu, tidak semua undangan buka bersama harus dihadiri. Menurutnya, memilah agenda yang paling penting bisa menjadi solusi agar keuangan tetap terkendali.
“Mengikuti berbagai acara bukber boleh saja karena itu merupakan bentuk silaturahmi, tetapi harus tetap disesuaikan dengan kemampuan finansial. Jangan sampai agenda bukber malah membuat kita kelabakan dalam hal keuangan,” tegasnya.
Sebagai alternatif, Iqbal menyarankan agar acara buka bersama bisa diganti dengan kegiatan lain yang tetap mempererat silaturahmi tetapi lebih hemat dan bernilai ibadah. Misalnya, safari masjid atau qiyamul lail bisa menjadi pilihan untuk menjaga kebersamaan tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
“Inti dari pertemuan adalah silaturahmi, bukan hanya soal makan bersama. Mengganti agenda bukber dengan kegiatan ibadah bisa tetap menjaga kebersamaan tanpa harus boros,” tambahnya.
Selain pengeluaran pribadi, Iqbal juga memberikan tips bagi masyarakat yang ingin mencoba usaha dadakan selama Ramadan agar tidak merugi. Menurutnya, pemilihan produk yang tepat sangat penting karena tidak semua jenis usaha cocok untuk bulan puasa.
Ia merekomendasikan makanan ringan dan minuman kekinian sebagai pilihan utama karena permintaannya tinggi di bulan Ramadan. Selain itu, mencari lokasi yang strategis, seperti di pusat keramaian atau dekat masjid, juga bisa meningkatkan peluang sukses.
“Mengkreasikan produk agar lebih menarik juga penting. Masyarakat cenderung tertarik pada makanan atau minuman yang unik dan berbeda,” ujarnya.
Dosen manajemen itu menegaskan bahwa perencanaan keuangan menjadi hal utama yang harus diperhatikan selama Ramadan agar tidak terjebak dalam gaya hidup konsumtif. Menurutnya, banyak orang yang tanpa sadar menghabiskan uang untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
“Perencanaan yang tepat akan memberikan dampak positif bagi keuangan kita. Jangan menghabiskan uang untuk hal yang tidak perlu, tetapi fokus pada hal-hal yang lebih esensial,” pungkas Iqbal. [dan/beq]






