Lamongan (beritajatim.com) – Saat perayaan tahun baru Imlek, atraksi barongsai menjadi tradisi yang kerap dimainkan oleh masyarakat Konghucu di sejumlah kota, utamanya di kelenteng. Meski begitu, di Kabupaten Lamongan ada satu tim barongsai yang berasal dari Pondok Pesantren (Ponpes).
Tim barongsai itu tepatnya berasal dari Pondok Pesantren Sunan Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Para personil yang dilibatkan pun semuanya adalah santri yang menempuh pendidikan dan mukim di pesantren setempat.
Jika kebanyakan barongsai identik dengan tradisi warga keturunan Tionghoa dan agama Konghucu, namun barongsai di Pesantren yang diasuh oleh Dr. KH. Abdul Ghofur ini justru lebih sering tampil di kegiatan-kegiatan Perayaan Hari Besar Islam (PHBI).
“Pada tahun Imlek kali ini, tepatnya tahun kelinci, tetapi kita yang di pesantren ini cara mengcover barongsainya beda. Kita biasanya keluarnya justru lebih sering pada hari-hari besar Islam, seperti Maulid Nabi, kirab budaya, dan lainnya,” ujar Abdul Fattah, pendiri sekaligus pelatih tim barongsai Sunan Drajat, saat berbincang dengan beritajatim.com.
[berita-terkait number=”5″ tag=”imlek”]
Kendati demikian, Fattah menyampaikan, pihaknya tidak menolak jika mendapat permintaan untuk tampil saat perayaan Imlek. Bahkan, ia berkata, tim barongsai Sunan Drajat juga diundang untuk mengikuti kegiatan pertemuan barongsai internasional di negeri jiran, Malaysia.
“Kita tidak mengikuti momen Imlek, tapi kalau kita diminta tampil untuk membantu agama lain saat perayaan, kita juga gak apa-apa. Kebetulan pada tahun ini kita juga main ke Malaysia, untuk mengikuti pertemuan barongsai dunia, yang bertepatan dengan perayaan Imlek juga,” terang pria kelahiran Bojonegoro tersebut.
Fattah menjelaskan, tim barongsai Sunan Drajat ini telah berdiri sejak tahun 2011 silam. Kala itu, secara perlahan ia merintis barongsai dengan teman asrama di pesantren setempat. Untuk keterampilan dalam memainkan barongsai itu sendiri, Fattah mengaku, ia dapatkan sejak masih duduk di bangku SMP.
“Tim barongsai ini berdiri tahun 2011, di Pondok Pesantren Sunan Drajat. Saya bisa main barongsai itu dulu sejak masih SMP, waktu itu saya ikut latihan dan belajar barongsai di Klenteng yang ada di Kelurahan Karang Pacar, Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro,” bebernya.
Menurutnya, bagi seseorang yang ingin lihai dan terampil dalam memainkan barongsai, maka haruslah memiliki basic kungfu terlebih dahulu. Pasalnya, tegas Fattah, gerakan-gerakan dasar barongsai itu berbeda dari seni beladiri atau silat lain pada umumnya.
“Karena barongsai itu kan mainnya atas, bukan cukup hanya main kuda-kuda bawah saja. Jadi setidaknya harus belajar kungfu, biar mudah dan cepat dalam memainkan barongsai,” tandasnya.
Saat ini, Fattah menuturkan, personel yang dilibatkan dalam tim barongsai Sunan Drajat ini berjumlah sekitar 30-an pelajar. Puluhan personel itu terdiri dari mereka yang memainkan barongsai dan naga, serta yang memainkan alat-alat musik pengiringnya.
“Semua santri di Pesantren Sunan Drajat ini sebenarnya bisa mengikuti barongsai ini, tapi disarankan dan diutamakan untuk yang tingkat SMP, karena otot-otot pada usia segitu mudah untuk dilatih,” tambahnya.
Lalu untuk memenuhi kebutuhan pengadaan alat dan melengkapi aksesoris barongsai yang digunakan timnya, Fattah menyampaikan, biasanya ia sisihkan dari dana kas yang dikumpulkan oleh tim dari hasil penampilan atau jobnya selama ini.
“Pengadaan alat ini berasal dari kas, biasanya kalau kita dapat job itu dibagi menjadi tiga, yakni untuk tim, untuk kas dan untuk perawatan. Sekarang, Alhamdulillah kita juga mendapatkan dukungan dari SMK Sunan Drajat,” paparnya.
Lebih lanjut terkait karakter khas yang ditampilkan oleh tim barongsai Sunan Drajat ini, ungkap Fattah, pihaknya lebih memilih untuk menampilkan barongsai dengan karakter Hok Shan. Hal itu lantaran permainan karakter Hok Shan dinilai lebih santai dan mudah dihayati.
“Barongsai itu kan dari Cina Selatan ya, yang dibagi dua yakni Foshan dan Hok Shan. Keduanya memiliki bentuk karakter wajah yang berbeda satu sama lain. Kalau kami lebih memilih karakter Hok Shan,” jelasnya.
Berdasarkan catatan beritajatim.com, karakter barongsai Foshan memiliki bentuk mulut yang lebih melengkung ke atas, kepalanya besar dan tanduknya lebih runcing. Sedangkan Hok Shan badannya lebih pendek, ringan dan berbulu, dengan bentuk mulut yang menyerupai bebek dan ujung tanduknya bulat melingkar.
Pada umumnya, barongsai berkarakter Foshan ini lebih garang dan banyak ditampilkan di sejumlah perguruan kungfu. Sementara barongsai berkarakter Hok Shan kerap ditampilkan dalam pesta rakyat tradisional China, dengan menonjolkan sosok barongsai yang, cute menggemaskan, menghibur, dan lebih dekat dengan masyarakat.[riq/kun]






