Jakarta (beritajatim.com) – Tradisi Sadranan atau Nyadran adalah kegiatan sosial spiritual yang merupakan momen bagi masyarakat Jawa yang eksis sampai sekarang dari sejak ratusan tahun lalu. Nyadran adalah suatu rangkaian budaya yang berupa membersihkan makam leluhur, nyekar (tabur bunga), dan puncaknya berupa kenduri selamatan atau berdoa di makam leluhur.
Pergelaran ritual nyadran atau sadranan berlangsung dua kali setahun, yaitu pada bulan Ruwah dan Sapar pada penanggalan Jawa. Nyadran juga menjadi salah satu tradisi menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, yaitu bulan Syaban pada kalender Hijriyah.
Pendiri Maxone Hotel Loji Kridanggo Aloys Sutarto mengatanan, Nyadran juga bisa menjadi katalis untuk memperkuat silatuhrami antar keluarga dan hubungan kekerabatan antarwarga. Dalam spirit yang sama, menurutnya, masyarakat Tionghoa juga akan melakukan ritual yang sama dengan Nyadran, yang dikenal sebagai “Qing Ming”/“Ceng Beng” dalam dialek Hokkian, atau sering disebut Cengbengan, yang puncaknya pada awal April berdasarkan kalender Masehi.
Sutarto menambahkan, tata cara pelaksanaan tradisi nyadran arti disini tidak hanya sekedar ziarah ke makam leluhur tetapi juga terdapat nilai-nilai sosial budaya seperti gotong royong, pengorbanan, ekonomi, menjalin silaturahmi, dan saling berbagi antar masyarakat di suatu lingkungan.
Tradisi Nyadran dilakukan dengan kearifan lokal masing-masing sehingga di beberapa tempat terdapat perbedaan-perbedaan dalam prosesi pelaksanaannya.
Dalam perjalanannya terdapat pengembangan-pengembangan dalam prosesi Nyadran, yakni dengan memasukkan unsur-unsur budaya, salah satunya yakni dengan menampilkan Kirab Tadisi Nyadran atau kirab tenong sebagai unsur kebersaman.
“Untuk tahun ini, Maxone Hotel Loji Kridanggo yang berada di pusat kota Boyolali juga ikut menggelar prosesi Tradisi Sadranan atau Nyadran ini pada tanggal 27 Februari lalu,” ujarnya.
Dia menjelaskan, tradisi Nyadran dimulai tepat pada pukul 16.00 WIB. Kirap tenong mengawali kegiatan ini. Kirab Tenong membawa tumpeng lengkap dengan lauk pauk dan ayam ingkung serta minuman & makanan ringan tradisional. Kirab atau arak-arakan dimulai dari Halaman Hotel masuk ke Pintu Utama dan selanjutnya menuju ke Ruang Sky Lounge yang menghadap ke pemandangan nan indah sisi barat terbentang pemandangan Gunung Merapi & Merbabu yang terletak di Lantai 8, menuju ke tempat upacara adat dilangsungkan.
Kegiatan kedua dalam rangkaian Nyadran ini adalah Ujub. Ujub merupakan tahap di mana Pemangku Adat/modin/pendoa menjelaskan maksud kegiatanin diadakan. Kemudian Doa, Pemangku Adat/modin/pendoa memimpin kegiatan doa bersama yang ditujukan kepada roh leluhur yang sudah meninggal.
“Setelah itu, dilanjutkan dengan makan bersama atau disebut juga Kembul Bujono dan Tasyukuran,” ujarnya. [hen/beq]






