Lamongan (beritajatim.com) – Paguyuban Budaya Wilwatikta Lamongan resmi diwisuda atau dilantik. Kegiatan wisuda tersebut dikemas dalam acara Mangayubagya Tanggap Warsa 1 Suro 1957 Jawa, bertempat di Makam Nyai Andongsari, Desa Sendangrejo, Kecamatan Ngimbang, Lamongan, Rabu (2/8/2023).
Kegiatan ini menjadi momen penting bagi para budayawan Lamongan. Pasalnya, Paguyuban Budaya Wilwatikta yang terdiri dari 60 pengurus ini untuk pertama kalinya diwisuda. Paguyuban inilah yang nantinya bakal menjadi garda terdepan dalam melestarikan kebudayaan Jawa atau nguri-uri kabudayaan Jawi di Lamongan.
Pengurus Paguyuban Budaya Wilwatikta, Eyang Sriyadi Purwo Wiyoso menyampaikan bahwa kegiatan ini bisa terlaksana berkat kerjasama antara Paguyuban bersama Pemkab Lamongan serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lamongan.
Eyang Sriyadi membenarkan bahwa kegiatan ini memang untuk merayakan Tahun Baru 1957 Saka Jawa, yang berlansung dalam satu hari satu malam.
Tak cukup itu, Eyang Sriyadi juga mengungkapkan, sebelum menjalani pelantikan, para budayawan dari berbagai belahan wilayah di Lamongan ini telah lebih dulu menjalankan serangkaian tradisi.
“Sebelum dilantik atau diwisuda, pengurus paguyuban menjalankan tradisi mulai dari Jamasan (pembersihan atau mandi) di Sendang Sidowayah dan Kamulyan sebagai bentuk pensucian diri secara jiwa dan raga, yang dilanjutkan dengan Kirab Pataka menuju Makam Nyai Andong Sari, hingga ruwatan,” ungkapnya.
Dituturkan oleh Eyang Sriyadi, terdapat 3 (tiga) tugas utama budayawan Lamongan yang sekaligus menjadi harapan hadirnya pengurus budayawan Lamongan, yakni ruwat sukerta, ruwat sangkala, dan ruwat bumi Lamongan.
“Pengurus Budaya Wilwatikta sudah diwisuda atau dikukuhkan, saya atas nama pengurus Budaya Wilwatikta mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Lamongan, kami mohon motivasi serta sarannya untuk ke depan,” tutur Eyang Sriyadi.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengatakan bahwa pelestarian budaya Jawa melalui tradisi suroan ini menjadi semangat, sekaligus momentum untuk intropeksi dan mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam menapaki tahun baru.
“Selamat kepada budayawan yang sudah dilantik dan terima kasih. Mari bersama-sama pemerintah untuk nguri-uri kabudayaan, budaya jawi dan budaya masyarakat Lamongan,” kata Bupati Yuhronur.
“Tanggal 1 Suro ini kita jadikan sebagai penyemangat dan sarana intropeksi diri untuk terus memperbaiki, menyempurnakan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT,” tambahnya.
Sebagai bentuk wujud syukur, dalam acara ini juga dilaksanakan tumpengan dengan menyajikan 57 tumpeng sebagai lambang tahun Saka Jawa yang diambil dari dua angka terakhir.
Bahkan, Paguyuban Budaya Wilwatikta ini telah menyediakan 45 uba-rampe sesaji sura sebagai simbol tindak tanduk manusia. Acara Mangayubagya Tanggap Warsa 1 Suro 1957 Jawa ini semakin semarak dengan hadirnya wayangan sejarah tutur tinular Nyai Andong Sari, pada malam harinya.[riq/kun]
BACA JUGA:
Lamongan Wujudkan Pembangunan Merata bersama Lansia






