Malang (beritajatim.com) – Kota yang baik tak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal dan bekerja, tetapi juga harus bisa membuat warganya bahagia dan sehat secara mental. Sayangnya, banyak kota di Indonesia, termasuk Malang, masih berorientasi pada kendaraan bermotor dan mengabaikan hak pejalan kaki. Akibatnya, berjalan kaki seringkali terasa seperti sebuah penderitaan.
Menjawab keresahan ini, Prof. Ir. Jenny Ernawati, MSP., Ph.D. dari Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan RATAP, sebuah model rancang kota yang berfokus pada kenyamanan dan keamanan pejalan kaki. Gagasan cemerlang ini dipaparkan dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam Bidang Rancang Kota dan Environment-Behavior Studies di Fakultas Teknik.
Menurut Prof. Jenny, desain kota yang berhasil adalah yang mampu menarik warganya untuk keluar rumah dan beraktivitas fisik. “Kota yang baik itu bagaimana caranya menarik orang untuk keluar dari rumahnya beraktivitas di kota,” ujarnya saat jumpa pers pada Rabu (21/8/2025).
Ia mencontohkan antusiasme warga saat Car Free Day di Malang sebagai bukti bahwa masyarakat haus akan ruang publik yang nyaman untuk beraktivitas. Gaya hidup modern yang serba instan membuat banyak orang terjebak dalam rutinitas minim gerak, seperti bekerja berjam-jam di depan laptop. Kurangnya aktivitas fisik ini, diperparah dengan desain kota yang tidak ramah pejalan kaki, berkontribusi pada meningkatnya masalah kesehatan fisik dan mental.
“Kalau kita terkurung di dalam rumah atau hanya dari rumah ke kantor, itu tentu menimbulkan kesehatan mental yang rendah,” tegas Prof. Jenny. Ia merujuk pada data riset global yang menunjukkan bahwa 20-30% kematian akibat penyakit tidak menular disebabkan oleh kurangnya aktivitas fisik.
Kondisi ini menjadi ironis ketika fasilitas yang seharusnya mendorong aktivitas fisik, seperti trotoar, justru tidak memadai. “Kalau kita mencoba berjalan kaki [di Malang], kita akan merasa mungkin orang yang berjalan kaki akan merasa kayak orang yang paling sengsara,” ungkapnya.
Model RATAP yang digagas Prof. Jenny menawarkan solusi dengan memadukan dua dimensi utama. Pertama, Dimensi Objektif (Fisik): Ini mencakup elemen-elemen terukur seperti lebar trotoar yang memadai. Prof. Jenny menyoroti bahwa standar lebar trotoar harus disesuaikan dengan budaya lokal.
“Orang Indonesia itu budayanya kan enggak pernah jalan sendirian, gerombolan. Otomatis kita butuh [trotoar] mungkin bisa lima meter,” jelasnya. Ia mencontohkan kawasan Kayu Tangan yang meskipun sudah lebar, penempatan bangku-bangku justru mempersempit area untuk berjalan, sehingga lebih mendorong aktivitas sosial (duduk-duduk) daripada aktivitas fisik.
Kedua, Dimensi Subjektif (Psikologis). Aspek ini berkaitan dengan perasaan aman dan nyaman. Aman dari lalu lalang kendaraan bisa diwujudkan dengan barier seperti jajaran pepohonan. Sementara itu, aman dari kriminalitas dipengaruhi oleh kehadiran orang lain.
“Kalau kita jalan sepi sendirian kita pasti merasa tidak nyaman. Tetapi kalau di situ banyak orang yang juga berjalan-jalan, kita akan senang ikut di dalam kerumunan itu,” paparnya.
Prof. Jenny juga menyoroti pentingnya penataan Pedagang Kaki Lima (PKL). Menurutnya, PKL adalah ciri khas kota di Indonesia yang tidak bisa dihilangkan, melainkan harus ditata. “Di negara-negara lain juga ada kaki limanya, bahkan di New York itu juga banyak. Tetapi mereka itu menata sedemikian rupa,” tambahnya.

Sebagai perbandingan, Prof. Jenny menunjuk kota Sydney, Australia, yang telah berhasil mentransformasi pusat kotanya menjadi sangat ramah pejalan kaki. Bus dan kendaraan pribadi sudah tidak diizinkan masuk ke area pusat kota. Transportasi yang diizinkan hanyalah light rail (trem modern).
“Di pusat kota hanya bisa berjalan kaki, kalau mau berpindah agak jauh, naik light rail itu. Turun, jalan kaki lagi, tidak ada kendaraan,” katanya. Hasilnya, polusi udara menurun drastis dan masyarakatnya menjadi lebih sehat.
Selain Prof. Jenny Ernawati, Universitas Brawijaya juga mengukuhkan tiga guru besar lainnya dari berbagai disiplin ilmu, menunjukkan komitmen UB dalam menghasilkan inovasi untuk menjawab tantangan zaman.
Mereka adalah Prof. Putu Mahardika Adi Saputra (Ekonomi Internasional) dengan model SPATRA DUAL untuk analisis perdagangan global. Prof. Dr. Budi Santoso, S.H., LL.M. (Hukum Hubungan Kerja) dengan model Flexicurity di era transformasi digital. Prof. Kiki Fibrianto, STP., MPhil., PhD (Teknologi Pertanian) dengan model Face-DAKO untuk mengevaluasi efek relaksan teh daun kopi. Dan empat profesor lainnya dari berbagai keilmuan. (dan/but)






