Surabaya (beritajatim.com) – Mahasiswa S2 Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya Mohammad Adji Romadhon menciptakan role play sebagai solusi bagi anak-anak yang mengalami disleksia.
Adji mengungkapkan, penelitiannya ini berawal dari banyaknya anak SD yang mengalami disleksia dan kerap dinilai kurang asertif. Ia pun mengambil penelitian berjudul ‘Efektivitas Metode Role Play Untuk Meningkatkan Perilaku Asertif Pada Anak Disleksia’.
Disleksia sendiri merupakan gangguan kemampuan belajar, dan tidak hanya terpatok dalam membaca atau menulis saja. Adji melihat, anak-anak SD disleksia tersebut kesulitan berkomunikasi dan mengolah informasi.
Menurutnya, respon yang diberikan anak dengan gangguan disleksia bisa mengarah pada dua kutub yang berbeda. Adji menggunakan istilah radikal kanan atau radikal kiri untuk membaginya.
Ia menerangkan, radikal kanan (agresif) cenderung mendominasi, bahkan mengintimidasi rekannya karena berusaha menutupi kekurangannya. Sehingga, perilaku yang muncul adalah defense mechanism.
“Sementara radikal kiri cenderung (pasif) atau menarik diri dari lingkungan, bahkan efeknya menjadi korban bullying. Sehingga, perlu intervensi untuk meningkatkan perilaku asertif anak disleksia,” terangnya, Kamis (22/8/2024).
Dalam penelitiannya, Adji menggunakan metode role play untuk meningkatkan perilaku asertif anak disleksia. Metode ini melibatkan kegiatan bermain peran, seperti sekolah-sekolahan atau jual-jualan.
Ia menilai, cara ini memungkinkan anak-anak untuk mendramatisasikan tingkah laku dan ekspresi wajah mereka. Metode ini dirancang untuk mendorong kreativitas dan meningkatkan perilaku asertif.
“Sebenarnya metode ini akan mengarahkan siswa untuk lebih kreatif dalam menirukan berbagai kegiatan menjadi dramatis, baik itu ide, situasi, maupun karakter khusus. Sehingga bisa terbentuk perilaku asertif,” kata Adji.
Adji melakukan penelitian dengan 20 siswa disleksia ringan dari sebuah SD Negeri di Surabaya. Penelitian berlangsung selama dua bulan, mulai dari screening hingga penyelesaian.
Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada perilaku asertif. Rata-rata nilai perilaku asertif meningkat dari 11,0 pada pre-test menjadi 25,5 pada post-test. Sebelum intervensi, 65 persen siswa berada dalam kategori kurang asertif; setelah intervensi, 55 persen siswa meningkat menjadi cukup asertif.
Adji berharap penelitian ini dapat menambah pengetahuan tentang disleksia dan memberikan manfaat praktis bagi orang tua, sekolah, dan peneliti selanjutnya dalam menangani disleksia serta meningkatkan perilaku asertif. [ipl/bu]






