Surabaya (beritajatim.com) – Empat mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) menciptakan tas ramah lingkungan berbahan serabut kelapa yang dilengkapi gantungan berisi aneka biji bunga. Produk ini menjadi solusi alternatif pengganti material kulit dalam industri mode.
Emily Jocelyn, Johan Febriawan, Tutik Masruroh, dan Jibrail Fajar dari Fakultas Industri Kreatif (FIK) Ubaya merancang inovasi tersebut. Langkah ini merespons tingginya limbah sampah yang dihasilkan oleh perkembangan tren pakaian global.
Kelompok mahasiswa tersebut memilih serabut kelapa karena ketersediaannya yang melimpah di Indonesia. Material ini dinilai memiliki kekuatan serta tekstur unik yang tidak dimiliki oleh bahan sintetis maupun kulit hewan.
Johan Febriawan menjelaskan bahwa pemilihan bahan didasari oleh potensi besar komoditas lokal yang belum tergarap optimal. Menurutnya, harga bahan baku ini sangat terjangkau bagi para produsen kreatif.
“Kami akhirnya sepakat menggunakan serabut kelapa karena harganya murah dan bahannya kuat. Motif serta teksturnya juga sangat unik,” tutur Johan, Jumat (27/3/2026).
Proses pembuatan melibatkan campuran tepung tapioka, air, dan gliserin sebagai perekat alami untuk menjaga kelenturan lembaran. Cairan tersebut dioleskan pada permukaan serabut kelapa sebelum akhirnya dijahit secara manual.
Johan menekankan penggunaan bahan perekat alami tersebut menjamin produk tetap aman bagi ekosistem saat tidak lagi terpakai. Seluruh komponen tas dirancang agar dapat terurai secara natural.
“Ketika tas ini sudah rusak, produk dapat ditanam dan diuraikan oleh alam. Kemudian, bibit-bibit bunganya dapat tumbuh,” lanjutnya.
Tas ini menyertakan gantungan berisi bibit bunga matahari, celosia, anyelir, forget me not, dan baby’s breath. Inovasi ini memungkinkan pemanfaatan kembali limbah produk menjadi tanaman produktif di lahan terbuka.
Meskipun memiliki potensi keberlanjutan, tim menghadapi kendala teknis pada tahap pengeringan lembaran serabut. Proses tersebut masih mengandalkan paparan cahaya matahari secara langsung sehingga terhambat saat cuaca hujan.
Johan mengakui bahwa produksi manual menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga konsistensi bentuk tas. Waktu pengerjaan bertambah lama karena setiap bagian disatukan tanpa bantuan mesin jahit pabrikan.
“Proses menjahit lembaran menjadi tas sangat sulit karena masih dilakukan jahit tangan. Selain itu, pengeringan terhambat musim hujan,” papar Johan.
Inovasi ini diharapkan mampu mendorong para pelaku industri kreatif untuk mulai mengeksplorasi material ramah lingkungan. Johan melihat banyak sumber daya lokal yang berpotensi menggantikan bahan baku industri konvensional.
“Kita di Indonesia memiliki banyak sumber daya untuk alternatif bahan fesyen ramah lingkungan. Tinggal inisiatif dan keberanian melakukan eksperimen pemanfaatannya,” tutup Johan. [ipl/suf]






