Sumenep (beritajatim.com) – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam PMII Sumenep berunjukrasa ke kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat, Kamis (09/01/2025). Mereka menyoroti kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati yang dianggap gagal melaksanakan program unggulan selama hampir 5 tahun menjabat.
“Kami kesini menyuarakan suara hati, suara masyarakat. Masyarakat bawah saat ini tidak baik-baik saja. Kabupaten Sumenep tercatat sebagai daerah nomor 3 termiskin di Jawa tmTimur. Ini menunjukkan ketidakbecusan Pemkab Sumenep,” kata Korlap Aksi, Zainul Arifin.
Para pengunjukrasa sambil berorasi membentangkan spanduk panjang warna putih dengan tulisan warna merah. Spanduk itu bertuliskan ‘Rapor Merah Pemerintah Kabupaten Sumenep’. Para mahasiswa juga membawa poster-poster bettuliskan kritik terhadap masa pemerintahan Bupati Sumenep, Ach. Fauzi Wongsojudo. Diantaranya ‘Bupati bahagia, rakyat sengsara’, ‘Perbaiki pelayanan kesehatan, Pemkab harusnya berbenah’.
“Ada 8 program unggulan di masa pemerintahan Bupati Fauzi, mulai bidang kesehatan, ekonomi, hingga infrastruktur. Tapi mana kenyataannya? Realisasinya tidak sesuai harapan,” ujarnya.
Ia mencontohkan pembangunan infrastruktur berupa jalan di wilayah kepulauan. Hingga saat ini realisasinya tidak terlihat. Jalan-jalan di wilayah kepulauan rusak berat. “Sangat terlihat kesenjangangan pembangunan antara wilayah kepulauan dan daratan. Karena itu, kami menagih janji Bupati si program unggulan itu. Mari kita berdiskusi,” ungkapnya.
Para mahasiswa ngotot untuk bertemu langsung dengan Bupati dan menyampaikan aspirasinya tanpa perwakilan. Karena itu, ketika Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olah Raga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep, Moh. Iksan menemui mahasiswa, para pengunjukrasa menolak.
Mereka tetap bersikukuh ingin bicara langsung dengan Bupati, tanpa melalui perwakilan. Setelah disampaikan bahwa Bupati hari ini tidak ada di tempat karena tengah ada urusan dinas di luar, mahasiswa tidak percaya. Mereka meminta diberi kesempatan masuk dan melakukan ‘sweeping’ kantor Bupati, untuk melihat apakah Bupati memang benar-benar tidak ada di tempat karena tugas luar, atau sengaja menghindar karena tidak ingin bertemu dengan mahasiswa.
Aksi sempat berlangsung panas dan diwarnai aksi saling dorong dengan aparat kepolisian yang menghalangi mahasiswa yang akan mendekat ke kantor Bupati. Namun akhirnya aparat kepolisian membiarkan mahasiswa masuk ke halaman depan Kantor Bupati dan bertahan di teras. Namun akhirnya mahasiswa membubarkan diri dengan tertib setelah memastikan bahwa Bupati memang sedang tidak berada di tempat. Para mahasiswa berjanji akan datang lagi dengan jumlah massa yang lebih besar. (tem/kun)






