Jember (beritajatim.com) – Puluhan orang mahasiswa yang tergabung dalam Forum Ketua Umum Mahasiswa Pecinta Alam (FKU Mapala) berunjuk rasa dengan membawa replika bola dunia, di depan Pendapa Wahyawibawagraha, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa (2/5/2023).
Bola dunia berwarna biru tersebut mencantumkan tulisan ‘Tolak Tambang’ dan ‘Save Bedadung’. Bedadung adalah nama sungai di Kabupaten Jember yang memgalir dari hulu ke hilir sepanjang 161 kilometer.
Mereka mendesak Pemerintah Kabupaten Jember untuk berkontribusi penuh dalam upaya pelestarian lingkungan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jember dituntut untuk menanggulangi pencemaran sungai dan penimbunan sampah di daerah aliran sungai Bedadung.
“Kami sudah beberapa kali mengadakan ekspedisi Sungai Bedadung. Terdapat 20 timbunan sampah pada 2019 yang kami hitung sejak lokasi sungai di dekat Pondok Pesantren Nurul Islam hingga kampus belakang Universitas Islam Negeri. Tahun 2021, jumlahnya meningkat. Peran DLH sangat penting di sini,” kata Adam.
Ada dua peraturan daerah (perda) yang diusulkan mahasiswa, yakni peraturan daerah tentang larangan atau pengurangan plastik sekali pakai di Jember, dan perda untuk menjaga kelestarian gumuk. “Identitas Jember adalah ‘Kota Seribu Gumuk‘,” teriak Adam Azizi, koordinator aksi. Berdasarkan RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Jember 2021-2026, ada 1,670 gumuk yang terinventarisasi.
Mahasiswa juga mendesak Pemerintah Kabupaten Jember untuk menolak seluruh aktivitas pertambangan di wilayah hutan dan pesisir Jember. “Libatkan mahasiswa pecinta alam dalam upaya pelestarian lingkungan di Jember,” kata Adam.
Adam mengkritik RPJMD yang memasukkan potensi peruntukan wilayah tambang mineral logam di 11 kecamatan, yang meliputi Silo, Tempurejo, Wuluhan, Ambulu, Puger, Gumukmas, Mayang, Mumbulsari, Ledokombo, Jenggawah, hingga Kencong. “Konservasi di wilayah pesisir hutan dan pantai sangat terancam yang mengakibatkan kerusakan ekologi dan ekosisten di sana,” katanya.
“Kita sudah jebol di RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah). Masa mau jebol lagi? Kalau datang diskusi saja, omong kosong. Kalau ada gerakan dan kemudian naik (dibicarakan) di DPRD baik-baik saja, dengan catatan mengundang mapala di Jember,” kata Adam.
Para mahasiswa ditemui Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik Edi Budi Susilo dan Kepala DLH Jember Sugiarto. Mahasiswa pun menyerahkan surat berisi enam butir tuntutan kepada Edi dan Sugiarto. “Ini surat cinta untuk bupati Jember,” kata Adam. [wir]






