Jember (beritajatim.com) – Populasi macan tutul di kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), Jawa Timur, masih terjaga hingga saat ini. Pembangunan jalan oleh Pemerintah Kabupaten Jember diharapkan bisa mempermudah penjagaan kawasan tersebut.
Saat ini, kurang lebih ada 20-30 ekor macan tutul di Meru Betiri. “Populasi mereka masih bertahan. Teman-teman di Meru Betiri juga selalu melakukan survei untuk memantau keadaan populasi macan tutul di sana. Dengan habitat yang masih utuh, insya Allah macan tutul akan bertambah,” kata Kepala Balai TNMB Nuryadi, ditulis Kamis (9/3/2023).
Menurut situs resmi TNMB, macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) merupakan sub spesies macan tutul yang tersebar hanya di Pulau Jawa, Kangean, Nusa Kambangan, dan Pulau Sempu. Macan tutul memegang peranan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan di Jawa, sehingga merupakan spesies kunci (keystone species).
Macan tutul jawa merupakan satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999. Hewan ini termasuk dalam Redlist IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) dengan kategori Critically Endangered dan termasuk dalam Appendix I CITES (Convention on International Trade in En-dangered Species of Wild Fauna and Flora).
Bupati Hendy Siswanto berharap Meru Betiri tetap menjadi lahan konservasi alam. “Tidak boleh berubah sedikit pun. Fungsinya tetap menjadi hutan konservasi,” katanya.
“Saya menganut paham lingkungan bersih. Mazhab saya di situ. Kami mengabdi pada lingkungan yang bersih. Saya cinta berat terhadap Meru Betiri. Jangan pernah disenggol, apapun kondisinya, sampai kiamat nanti,” kata Hendy.
BACA JUGA:
Wisata Pantai Meru Betiri Jember akan Tiru Senggigi
Pemkab Jember sudah menandatangani perjanjian kerja sama dengan Balai TNMB untuk membangun 15 kilometer jalan di Bande Alit yang masuk dalam kawasan tersebut. Ada 12 organisasi perangkat daerah (OPD) yang terlibat dalam pembangunan ini. “Kami berusaha pada 2023 dan 2024 selesai. Mudah-mudahan kami bisa menyelesaikan 10 kilometer (pada 2023),” kata Hendy.
Nuryadi berterima kasih dengan rencana tersebut. Pembangunan jalan tersebut dinilai memberikan efek ganda, karena akan memperbaiki kehidupan ekonomi masyarakat. “Jalan sangat penting, karena pertama sebagai akses untuk wisata berbasis masyarakat. Juga sebagai akses pemantauan hutan. Teman-teman yang selalu hadir di hutan memang memerlukan akses yang lancar. Kalau masih seperti sekarang, agak sulit,” katanya.
Nuryadi mengakui dengan dibukanya jalan aspal di Meru Betiri akan ada risiko terhadap konservasi. “Banyak sih risiko. Kita berpikir positif saja, dengan akses itu, pembangunan ekonomi dan wisata berbasis unsur non kayu menjadi unsur utama,” katanya. [wir/but]






