Gaya Hidup

Wisata Pantai Meru Betiri Jember akan Tiru Senggigi

Bupati Hendy Siswanto

Jember (beritajatim.com) – Bupati Hendy Siswanto ingin mengelola pantai di kawasan Taman Nasional Meru Betiri, Kabupaten Jember, Jawa Timur, menjadi lokasi wisata seperti Pantai Senggigi, Nusa Tenggara Barat.

Hendy mengaku sudah melakukan pembicaraan dengan Balai Taman Nasional Meru Betiri. “Itu masuk program kami dan tahun ini (melakukan) desain. Justru dengan kita masuk ke taman nasional, kita justru mengamankan. Kalau tidak, orang bisa keluar masuk, liar,” katanya.

Menurut Hendy, dalam aturan yang baru, kawasan konservasi bisa dijadikan obyek wisata sepanjang tidak mengganggu. “Kami juga akan ada MOU (Memorandum of Understanding) untuk membuat jalan di (Taman Nasional) Meru Betiri. Di bibir pantai, kami akan lakukan MOU, membuat jalan di situ sambil mengamankan taman nasional,” katanya.

“Kami akan bikinkan jalan sepanjang 30 kilometer dan di pinggir jalan itu akan kami pasang pagar keliling. Jadi taman nasional masih aman dan pinggir pantai jadi tempat wisata seperti di Senggigi (Nusa Tenggara Barat),” kata Hendy.

Biaya pembangunan jalan 30 kilometer akan dimintakan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan mulai dikerjakan pada 2022. Jalur ini berbeda dengan jalur lintas selatan yang baru dibangun.

Hendy sudah melakukan pembicaraan dengan semua pihak terkait di Jakarta. Selain Meru Betiri, dia juga akan menjadikan Air Terjun Tujuh Bidadari di Kecamatan Sumberjambe yang berada di bawah wilayah pengelolaan Perhutani sebagai destinasi wisata. “Tinggal bikin MOU dan PKS (Perjanjian Kerja Sama) saja. Kalau Perhutani, kami tinggal buat PKS,” katanya.

Doktor komunikasi Universitas Jember Muhammad Iqbal melihat rencana itu kabar bagus buat Jember. “Namun, konsep dan sistem pengembangan pariwisata tersebut sangat perlu sejalan dengan Kebijakan Pariwisata Berkelanjutan atau Sustainable Tourism Policy. Jangan sampai nanti terjadi ‘sekali dibuka mati kemudian’,” katanya, Jumat (4/6/2021).

Iqbal memandang konsep hingga eksekusi rencana itu dikomunikasikan dengan publik dan para pemangku kebijakan ekosistem pariwisata. “Tujuannya tak lain adalah semata untuk memenuhi filosofi dari pariwisata berkelanjutan itu. Termasuk pula ditujukan untuk mematuhi regulasi dan legalitas pengembangan ekowisata di Jember,” katanya.

Mengapa? “Setahu saya kita punya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi SDA Hayati dan Ekosistemnya. Juga ada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2009 tentang Pedoman Pengembangan Ekowisata di Daerah. Nah, pulau Nusa Barong dan Taman Nasional Meru Betiri sebagai suatu kawasan pariwisata minimal sangat terkait dengan regulasi tersebut,” kata Iqbal. [wir/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar