Jember (beritajatim.com) – Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) meminta Bupati Hendy Siswanto agar menjadi panglima gerakan bersama penanganan stunting alias tengkes dan jambanisasi di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Permintaan ini dikemukakan Ketua Dewan Pimpinan Cabang PKB Jember Ayub Junaidi, Rabu (1/2/2023), merespons buruknya angka tengkes dan kepemilikan jamban. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, prevalensi balita stunted (tinggi badan menurut umur) di Jember mencapai 34,9 persen. Sementara Dinas Kesehatan Jember melansir data, 132.567 keluarga di Jember tidak memiliki jamban.
“Saya ingin bupati mengundang semua pihak, mulai dari ormas dan perguruan tinggi untuk menangani ini. Bupati jadi ‘panglima perang’. Kalau dulu, pada masa Bupati MZA Djalal ada gerakan gugur gunung menuntaskan buta aksara. Ayo kita tiru itu. Bupati sebagai panglima mengundang akademisi, NU, Muhammadiyah, dan semua pihak untuk bicara soal problem besar yang jadi urusan dasar,” kata Ayub.
Ayub mengaku kaget dengan buruknya perilaku hidup sehat warga Jember. “Saya tidak mau berdebat soal data. Semua orang punya sudut pandang berbeda-beda. Kita hormati,” katanya.
Menurut Ayub, hal terpenting adalah cara semua pihak merespons data tersebut dengan aksi nyata. “Kita berpikir bagaimana mencari solusi permasalahan ini agar cepat selesai. Kita tidak boleh saling menyalahkan, karena ini menjadi masalah kita bersama,” katanya.
Masalah jamban dan tengkes, menurut Ayub, adalah masalah peradaban. “Peradaban sebuah negara bisa dilihat bagus tidaknya cukup dengan melihat kamar kecil di bandara,” kata Ayub.
[berita-terkait number=”5″ tag=”Jember”]
Ayub menyerukan semua pemangku kepentingan bergerak, mulai dari pemerintah kabupaten, DPRD, organisasi kemasyarakatan, hingga perguruan tinggi. “Jember ini terkenal dengan predikat kota pendidikan. Ayolah, tunjukkan sumbangsih pemikiran dari perguruan tinggi seperti Universitas Jember. Bagaimana penelitiannya dan apa yang harus dilakukan? Bupati sebagai pengambil kebijakan harus mendengarkan itu (saran dan masukan dari perguruan tinggi),” katanya.
“Ayo dalam rentang setahun ini, kita bersama-sama mengurusi MCK (jamban) dan stunting dengan target. Kalau seratus persen butuh waktu, tapi harus ada progress. Saya yakin bisa,” kata Ayub.
Ayub mengingatkan bahwa warga yang terkena tengkes dan tak punya jamban adalah warga NU dan Muhammadiyah. “Itu umat kita semua, kelas menengah ke bawah. Ayo kita pikirkan bersama,” katanya.
“Bagaimana kita mau ngomong generasi 2045 kalau sekarang generasi yang akan menuju tahun 2045 mengalami stunting. Kalau seperti itu kita kehilangan binus demografi. Muhammadiyah punya Pemuda Muhammadiyah, Aisyah, NU punya Fatayat, punya Muslimat, ada PKK, anggota DPR RI, anggota DPRD Jawa Timur, polisi, TNI untuk bergerak membantu. Anggaran dialokasikan dalam Perubahan APBD 2023,” kata Ayub.
Bupati Hendy Siswanto disarankan berkomunikasi dengan semua wakil Jember di DPR RI untuk membicarakan dua masalah itu. “Buang ego partai untuk kepentingan Jember. Jadi kebijakan pusat, provinsi, dan daerah disinkronkan,” katanya. [wir/beq]






