Pamekasan (beritajatim.com) – Lonjakan kasus penyakit campak di Provinsi Jawa Timur, tidak terkecuali di kabupaten Pamekasan, disinyalir tidak lepas dari dampak pandemi Covid-19 yang terjadi pada beberapa tahun lalu.
“Kami sudah prediksi akan terjadi lonjakan kasus pasca wabah Covd-19, salah satunya campak,” kata Health Specialist United Nations Children’s Fund (UNICEF) Indonesia, Wilayah Jawa Timur, Armunanto di Pamekasan, Kamis (11/9/2025).
Salah satu melonjaknya kasus campak di antaranya karena tidak tercapainya target imunisasi pada anak karena bersamaan dengan pandemi Covid-19, seiring dengan banyaknya fasilitas kesehatan yang drop akibat pandemi, mulai dari Puskesmas hingga rumah sakit yang sibuk menangani pasien Covid-19.
Kondisi ini juga mengakibatkan pelayanan imunisasi terhadap anak dikesampingkan, dampaknya capaian imunisasi rendah, bahkan berada pada angka dibawah 95 persen. “Terlebih pada saat itu, Posyandu tidak boleh buka, sementara Puskesmas hingga rumah sakit fokus melayani pasien Covid-19, sehingga anak-anak tidak diimunisasi,” ungkapnya.
“Di Pamekasan, capaian imunisasi sekitar 80 persen dan perlu ditargetkan untuk mencapai 95 persen anak diimunisasi agar virus bisa diatasi dan gagal berkembang dan akhirnya tidak menimbulkan kasus baru dengan terbentuknya imunitas pada tubuh, sehingga keputusan kami perlu dilakukan imunisasi tambahan,” imbuhnya.
Berdasar update data kasus campak di lingkungan Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan, katagori suspek campak mencapai angka sebanyak 520 kasus, sebanyak 177 di antaranya dinyatakan positif campak. Bahkan dari total kasus positif, tercatat 5 orang di antaranya meninggal dunia, termasuk satu kasus meninggal dunia dengan status suspek. [pin/ted]






