Jember (beritajatim.com) – Achmad Sudiyono, mantan kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang saat ini mengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program Makan Bergizi Gratis, mengaku lega setelah bertemu Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Minggu (5/10/2005).
“Saya senang banget karena apa yang saya sampaikan tidak ada yang saya tutup-tutupi,” kata Sudiyono kepada Beritajatim.com.
Ketua Komnas HAM Anis Hidayah mengunjungi dapur SPPG di daerah Patrang, menyusul terjadinya protes seorang guru Sekolah Dasar Negeri Bintoro 5 terhadap kualitas MBG.
Dalam kunjungan ke dapur di Patrang, Anis menanyakan sejumlah hal kepada Achmad Sudiyono dan sejumlah staf SPPG. “Kami melakukan survei komprehensif di seluruh bagian dapur, terkait dengan penyimpanan bahan baku, tempat pengolahan, dan lain-lain,” katanya.
Sudiyono berterima kasih kepada Komnas HAM yang datang ke Jember. “Sangat tanggap dan sangat cepat merespons,” katanya.
Sudiyono menjelaskan prosedur pendirian dapur MBG yang telah ditempuhnya, termasuk legalitas yayasan yang dimilikinya. “Yayasan Wandas Foundation ada sepuluh, Bukan milik pribadilah yayasan itu, ber-KSO (Kerja Sama Operasional) dan bermitra dengan orang lain,” katanya.
Soal kehebohan di SDN Bintoro 5, Sudiyono menganggap itu sudah selesai. Pengiriman MBG ke sana juga masih berlanjut. “Saya enggak berani untuk memutus, karena itu masih dalam penerimaan sasaran,” katanya.
Begitu ada protes, Sudiyono langsung datang menemui guru dan kepala SDN Bintoro 5. “Saya silaturahim ke sana bukan untuk menang-menangan. Saya ceritakan begitu. Kepala Sekolah bahkan minta untuk diteruskan,” katanya.
Achmad Sudiyono menegaskan, pertemuan dengan Komnas HAM membuatnya semakin terpacu untuk memperbaiki pelaksanaan MBG. “Jangan sampai pelayanan ini menyalahi aturan, kualitas, dan petunjuk teknis,” katanya.
Sudiyono mengatakan, jauh sebelum dapurnya beroperasi, kualitas air yang akan digunakan sudah diuji laboratorium. “IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) sudah bersertifikat dan sudah ada pemeriksaan mikrobiologi.” katanya.
Sudiyono juga sudah melatih para relawan dapur melalui kerja sama dengan Dinas Kesehatan, “Jadi kami sudah mengantisipasi. Kami sudah melakukan jauh sebelumnya walaupun namanya tidak SLHS (Sertifikat Laik Higiene Sanitasi), tapi pelatihan penjamah makanan dan higientitas sanitasi. Jadi maknanya sama, dan saya jelaskan semua,” katanya..
Sudiyono mengatakan SPPG yang dikelolanya adalah dapur MBG pertama yang beroperasi di Jember. “Tentunya kurang ada kesempurnaan, tapi kami menyempurnakan dalam perjalanan,” jelasnya.
Selama ini Sudiyono mengatakan, SPPG yang dikelolanya sudah bekerja sesuai prosedur standar yang ditetapkan. Namun dia berjanji akan lebih ketat lagi menerapkan prosedur tersebut. “Saya akan lebih hati-hati, saya akan lebih cerewet terhadap dapur,” katanya. [wir]






