Blitar (beritajatim.com) – Lahan tanam padi di Jawa Timur terus berkurang. Namun demikian, jumlah panen padi Jatim tetap tertinggi se-Indonesia.
Data Dinas Pertanian Jatim, total ada 95,3 juta ton padi yang dihasilkan selama kurun waktu 2022. Jumlah tersebut didapat dari luas lahan tanam padi yang terus menyusut.
“Kalau di Jawa Timur tidak ada penambahan luasan lahan ya, yang ada justru terus berkurang untuk tol, bangunan dan lain-lain,” kata Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur, Dydik Rudy Prasetya saat berkunjung ke panen raya di Kabupaten Blitar, Sabtu (27/5/2023).
Pemprov Jatim sendiri menargetkan ada peningkatan hasil panen padi pada 2023 ini. Target panen padi yang dipasang sendiri tidak main-main, yakni 10,5 juta ton.
Sejumlah strategi pun akan dilakukan oleh Dinas Pertanian Jawa Timur untuk memenuhi target capaian produksi Gabah Kering Giling yang telah ditentukan tersebut. Salah satunya yakni dengan mengantisipasi dampak dari Elnino yang diprediksi BMKG akan masuk ke Indonesia.
Baca Juga:
Gus Sadad: Jaga Produksi Padi Jatim 10 Juta Ton Setahun
Dinas Pertanian Provinsi Jatim pun mulai melakukan intensifikasi tanaman. Yakni dengan cara memberikan bantuan benih yang bermutu sehingga lebih banyak bulir padi yang dihasilkan.
Benih yang diberikan ini juga memiliki masa panen padi yang relatif lebih singkat.
“Semoga Elnino ini tidak berdampak pada petani, makanya sudah kami gerakkan di beberapa wilayah itu untuk normalisasi, pemberian bibit umur pendek serta kami gerakkan AUTP itu early warning system untuk pemberitahuan awal,” jelasnya.
Terobosan lain yang dilakukan oleh Dinas Pertanian Jawa Timur yakni dengan memberikan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) kepada petani. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk peringatan dini atas ancaman Elnino ke sektor pertanian Jawa Timur.
Selain itu Pemprov Jatim juga akan melakukan optimasi pemberian mesin combine harvest yang akan mempercepat proses panen dan signifikan mengurangi loses gabah saat dipanen. Bahkan menurut Dydik pengurangan losesnya sampai 10 persen.
“Mengurangi loses menggunakan combine harvest itu mampu save 10 persen, jadi tapi jika target kita produksi gabah mencapai 10,5 juta ton, 10 persennya saja sudah 1 juta ton lebih. Maka ini penting,” tegasnya.
Dydik Rudy Prasetya mengatakan, tahun ini Pemprov Jatim tengah menggenjot perluasan lahan tambah tanam (LTT).
Dari 2022 seluas 1,9 juta hektar, di 2023 akan ditingkatkan menjadi 2,127 juta hektar. [owi/beq]






