Jember (beritajatim.com) – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Jember, Jawa Timur, menyerukan agar Pertamina segera mengambil tindakan nyata dalam waktu satu kali 24 jam untuk mengatasi krisis bahan bakar minyak yang saat ini terjadi.
Wakil Ketua Bidang Usaha Mikro Kecil Menengah, Koperasi, dan Ekonomi Kreatif Kadin Jember Rendra Wirawan mengatakan, manajemen distribusi yang buruk, menyebabkan keterlambatan pasokan dan kekosongan stok di banyak stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jember.
“Bahkan terkesan tidak ada solusi yang meyakinkan sehingga menyebabkan kepanikan serta ketidakpastian di masyarakat sampai siang ini,” kata Rendra, Senin (28/7/2025).
Saat ini, warga Jember kesulitan memperoleh BBM karena terhambatnya distribusi dari Pertamina. Alhasil antrean panjang terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Jember, Sabtu (26/7/2025) malam dan Minggu (27/7/2025) pagi.
Tidak semua kendaraan yang antre berhasil memperoleh BBM. Bahkan saat ini harga BBM eceran di pasar sudah mencapai Rp 30 ribu per botol.
Rendra mengatakan, antrean panjang BBM tanpa solusi permanen, menimbulkan penderitaan fisik. “Ada yang pingsan dan (lelah) mental bagi warga Jember,” jelasnya.
Rendra mempertanyakan tidak segera dibentuknya satuan tugas khusus untuk menangani distribusi di Jember. “Padahal kelangkaan BBM dapat memicu kenaikan harga barang dan jasa, yang pada akhirnya akan menyebabkan inflasi dan stagnasi ekonomi di Jember,” katanya.
Pernyataan Pertaminan
Sementara itu, Ahad Rahedi, Area Manager Communication, Relation and Corporate Social Responsibility PT Pertamina Patra Niaga Jawa Timur Bali Nusa Tenggara, mengatakan, ada delapan SPBU di Bondowoso dan 41 SPBU di Jember yang terdampak penutupan jalur Gumitir.
“Sebagai mitigasi, kami telah memetakan dan melaksanakan alternatif distribusi sejak pertengahan Juli lalu sebelum dimulainya penutupan jalur pada 24 Juli 2025,” kata Ahad, dalam siaran persnya.
Pertamina menggunakan rute alternatif yakni Banyuwangi – Situbondo – Arak-Arak – Bondowoso – Jember yang mana sebelumnya dari Banyuwangi – Gumitir langsung disalurkan ke Jember. “Tapi ternyata bersamaan dengan tersendatnya arus penyeberangan,” kata Ahad.
Menurut Ahad, Pertamina memutuskan untuk melaksanakan alih suplai ke Pertamina Instalasi Surabaya Group dan Fuel Terminal Malang untuk menghindari mobil tangki terjebak kemacetan di Pelabuhan Ketapang.
Ada 79 mobil tangki bantuan yang sudah disediakan, masing-masing berasal dari suplai Banyuwangi, Surabaya dan Malang dengan tetap mempertimbangkan jalur yang dilalui yang hanya bisa dilintasi maksimal kapasitas 24 kiloliter. “Sebagai upaya antisipasi selanjutnya, mendukung upaya normalisasi penyaluran, distribusi juga akan dibantu melalui Tuban dan Madiun,” kata Ahad. [wir]







2 Komentar
seandainya Jalur Lintas Selatan sudah selesai dibangun…
Mohon tindak yang menjual diatas harga eceran biasa 12 ribu.. Bentuk satgas nya banyak yang mencari keuntungan dengan keadaan susah saya serius memberitahukan pada pemkab jember tidak penjual eceran diatas harga normal biadab dengan cara menyerobot antrian dan dijual dengan harga gak masuk akal