Mojokerto (beritajatim.com) – Kolam Segaran di Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto mulai dibersihkan dari tanaman ganggang yang mendominasi permukaan air.
Pembersihan situs peninggalan Kerajaan Majapahit dilakukan sejak, Kamis (26/6/2025) pekan lalu.
Juru Pelihara (Jupel) Kolam Segaran, Supriyadi mengatakan proses pembersihan tidak dapat ditargetkan selesai dalam waktu tertentu. Hal ini disebabkan oleh jumlah personel yang terbatas serta metode pembersihan yang harus dilakukan secara teliti, lantaran harus dicabut sampai akar.
“Pembersihan dilakukan secara manual, ada sekitar 10 personel yang dilibatkan. Cara pembersihan harus dicabut hingga ke akarnya karena jenis tanaman ini menyerupai akar alang-alang. Jika tidak dicabut hingga tuntas, ganggang akan tumbuh kembali dengan cepat,” ungkapnya, Senin (30/6/2025).
Petugas melakukan pembersihan di Kolam Segaran setiap hari mulai pukul 08.00 WIB hingga 13.00 WIB. Pembersihkan Kolam Segaran tidak bisa dijadwalkan lantaran melihat kondisi kolam yang ditemukan Ir Henry Maclain Pont pada tahun 1926 tersebut, melihat banyak rumputnya.
“Kondisi cuaca sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ganggang di kolam. Jika hujan terjadi sebelum bulan September, pertumbuhan ganggang cenderung tidak masif. Namun jika musim kemarau berlangsung antara bulan September hingga Desember, tanaman ganggang bisa tumbuh lebih subur,” katanya.
Oleh karena itu, dalam satu tahun, jadwal pembersihan tidak bisa ditentukan secara pasti. Terakhir kali pembersihan dilakukan pada April 2024 lalu dan baru pertengahan tahun 2025 kolam yang mempunyai luas mencapai 375 x 175 meter persegi ini mulai dibersihkan.
“Karena pertumbuhan ganggang mulai mengganggu tampilan kolam. Selain ganggang, rumput liar yang tumbuh di sekitar kolam juga menjadi perhatian, apalagi saat musim hujan yang menyebabkan tanaman-tanaman itu terendam dan akhirnya membusuk di dalam air,” ujarnya.

Supriyadi menyebutkan bahwa ketinggian air di kolam saat ini berkisar antara dada hingga leher orang dewasa, atau sekitar satu meter lebih. Setelah dicabut dari dasar kolam, ganggang ditumpuk di tepi dan diangkut ke permukaan kolam untuk dibersihkan.
“Iya dipinggirkan, nanti diangkat. Untuk pengunjung Kolam Segaran, ramai setiap akhir pekan, terutama pada hari Minggu pagi antara pukul 06.00 WIB hingga 09.00 WIB. Tidak bisa menghitung karena Kolam Segaran gratis, tidak ada tiket masuk. Tanggal merah, Kolam Segaran tutup,” tambahnya.
Kolam kuno di tepi jalur wisata sejarah tersebut mempunyai luas mencapai 375 x 175 meter persegi. Struktur berbahan bata merah kuno sebagai dinding kolam mempunyai ketinggian 3,16 m meter, dengan ketebalan mencapai 160 cm dan terdapat 1 struktur tangga masuk di bagian barat kolam.
Di Kolam Segaran terdapat dua saluran sebagai akses masuk air dari persawahan di sekitarnya. Pertama, saluran di sudut tenggara Kolam Segaran yang mengalirkan air dari saluran irigasi persawahan warga. Kedua, saluran di bawah tanah di sudut barat daya Kolam Segaran.
Saluran ini menjadi akses masuk air dari Balong Bunder sekitar 100 m di selatan kolam. Air masuk ke Kolam Segaran melalui dua saluran tersebut hanya saat musim hujan, sedangkan di sudut barat laut terdapat dua saluran sebagai akses keluarnya air dari kolam.
Akses air dari sudut barat laut tersebut mengarah ke sungai-sungai kecil yang mengarah ke Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan. Kolam tersebut menjadi salah satu 32 kolam kuno peninggalan Kerajaan Majapahit yang masih dapat dilihat hingga saat ini.
Kolam Segaran pertama kali ditemukan oleh Ir Henry Maclain Pont pada tahun 1926. Kolam Segaran tersebut dilakukan beberapa kali pemugaran hingga terlihat seperti saat ini. Dengan luas kolam sekitar enam hektar, Kolam Segaran mampu menampung air maksimal 223.125 meter kubik. [tin]






