Surabaya (beritajatim.com) – Ikatan Mahasiswa Keguruan dan Ilmu Pendidikan seluruh Indonesia (Imakipsi) bersama aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Nusantara (BEMNus) mengadakan kegiatan bakti sosial di UPTD lingkungan pondok sosial (Liponsos) Kalijudan. Agenda tersebut berisi game edukasi dan mewarnai dengan melibatkan 15 relawan dan 35 penyandang disabilitas.
Kepala UPTD Liponsos Kalijudan, Cholik Anwar menyampaikan jika di tempat itu ada 58 penyandang difabel dari berbagai jenjang umur dan ‘keunikan’. Beberapa diantaranya ditemukan dalam kondisi kurang terawat baik oleh keluarganya sehingga Dinas Sosial lewat UPTD Liponsos menampung penyandang difabel di sekitar Kota Surabaya.
“Banyak pihak bisa membantu dan berperan dan membantu kepastian untuk penyandang difabel, terutama dari segi pendidikan. Pembukaan UUD 1945 sebagai dasar, termasuk upaya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa untuk seluruh warga negara Indonesia, yang berarti diantaranya juga penyandang difabel,” jelas Cholik Anwar.
Dia lalu membeberkan data dari Susenas (2019-2020) 29,60% penyandang disabilitas hanya tingkat sekolah dasar. Padahal dengan meningkat jenjang pendidikan memiliki dampak positif untuk peluang perbaikan taraf hidup penyandang disabilitas.
“Di Liponsos Kalijudan belum ada program pendidikan formal bagi penyandang disabilitas. Dulu pernah ada cuman berhenti karena tidak ada follow up dari pengajarnya, alhamdulillah saat ini ada salah satu sekolah swasta yang berniat membantu untuk memberikan pendidikan formal dan penyetaraan. Sedang kami susun dan bahas bersama rencana tersebut,” ujar Kepala UPTD Liponsos Kalijudan.
Salah relawan, Rahmania Adinda yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa S1 PLB Universitas Negeri Surabaya mengungkapkan soal perlunya l asesmen yang tepat sebelum menentukan metode pembelajaran dan keterampilan yang hendak dicapai. Sehingga perlu adanya kolaborasi berbagai pihak baik swasta maupun pemerintahan.
“Mulai dari mahasiswa, Corporate Social Responsibility, pemerintah daerah/kota dan bahkan yayasan pendidikan swasta harus berperan memastikan penyandang disabilitas mendapatkan pendidikan layak dan memiliki kesempatan untuk menguasai keterampilan yang diinginkan,” jelas Rahmania Adinda.
Senada dengan hal itu Ihda Filzafat, Wakil Ketua DPP IMAKIPSI menyampaikan kolaborasi dalam menjamin pendidikan bagi penyandang disabilitas tersebut harus disadari bersama. Kolaborasi antara pihak untuk memperbaiki kualitas pendidikan sangat diperlukan agar dapat memastikan penyandang difabel memperoleh hak pendidikan sebagaimana mestinya.
“Banyak yang bisa kita lakukan. Termasuk kegiatan Bakti Sosial yang kami selenggarakan bersama dengan BEM Nusantara ini untuk mendorong kesadaran mahasiswa bahwa kita bisa aktif dan berdampak bagi pendidikan penyandang difabel,” ucap mahasiswa yang sedang menjalani studi S2 pendidikan bahasa arab di Universitas Islam Negeri Malang itu.
Dwi Ardiansyah, Koordinator Isu Pendidikan BEMNus membenarkan soal realita banyaknya penyandang difabel di luar Liponsos dan di berbagai daerah yang belum mendapatkan kesempatan. Sehingga harus diberikan pelatihan keterampilan, pendidikan.
“Banyak lahan pengabdian yang bisa dilakukan lembaga maupun organisasi harus berperan turut. Ini menjadi harapan bersama akan muncul banyak program dan proyek sosial yang bergerak dalam bidang pendidikan khusus difabel dari semua kalangan termasuk mahasiswa,” tukasnya dalam keterangan. (dan/kun)






