Kediri (beritajatim.com) – Satu keluarga di Kediri menyedot perhatian publik setelah kisahnya miris mereka viral di media sosial. Mereka hidup dalam kondisi ekonomi seadanya, dengan ayah dan ibu sakit-sakitan serta anak difabel
Adalah keluarga Asin Santoso yang tinggal di Dusun Nambangan, Desa Badal, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Keluarga ini hidup dengan segala keterbatasan.
Asin (59) tak bisa bekerja lantaran mengidap kencing manis akut. Pun istrinya, Suharmin (59) juga sakit berat. Sementara anak mereka, Wiji Yanti (23), mengidap cacat bawaan lahir.
Baca Juga : Dindik Kota Kediri Pamer Program Pendidikan Unggulan
Kondisi keluarga ini menggerakkan Dinas Sosial Kabupaten Kediri untuk menyalurkan bantuan. Saat tim Dinsos Kabupaten Kediri berkunjung ke rumahnya pada Kamis (22/6/2023), Asin berbaring di tempat tidur dengan hanya memakai sarung dan pergelangan kaki kiri dibalut perban.

Asin bercerita, luka di kaki kirinya terjadi lantaran terjatuh saat Ramadhan lalu. Sejak saat itu, dia tak bisa lagi bergerak dan kesehatannya terus menurun.
“Kemarin jatuh dan patah. Ini habis dioperasi,” kata Asin sambil menunjukkan bagian paha kaki kirinya yang juga terbalut oleh perban kepada Tim Dinsos.
Dengan kondisi itu, Asin kini tak bisa lagi bekerja. Sehingga otomatis dia tak punya penghasilan untuk memenuhi biaya hidup.
Baca Juga : Disperdagin Kediri Terima Kunjungan BSLM Regional II Jogja
Sebelum sakit, Asin pernah bekerja sebagai perajin anyaman bambu. Dia juga membuka jasa potong rambut untuk menambah penghasilan.
Namun kini, hal itu sudah tidak memungkinkan lagi bagi Asin. Dia dan istrinya terpaksa menghadapi kesulitan, terutama dalam merawat Wiji Yanti.
Sejak lahir, Wiji mengalami kecacatan berat. Dia sulit bergerak dan juga berkomunikasi. Tangannya kaku dan kakinya seperti penderita polio.
Sepanjang hari, Wiji hanya bisa berbaring di kasur. Untuk mengusir rasa bosan, sesekali ia nonton televisi di dekat tempat tidurnya.
Meskipun kaku, Wiji masih bisa mengoperasikan remote TV. Dia bisa memilih channel yang ia sukai atau mengganti dengan saluran lain ketika sudah bosan.
Baca Juga : Pemkot Kediri Dukung Gerakan 10 Juta Bendera Merah Putih
Ketika punggungnya terasa lelah, Wiji akan meminta pertolongan kedua orangtuanya. Asin atau Suharmin kemudian membantunya duduk.
Namun sejak sang ayah jatuh sakit, Wiji tidak bisa meminta bantuan Asin. Sang ibulah yang membantunya memiringkan atau duduk untuk sebentar.
Beruntung, mereka punya tetangga yang peduli. Secara bergantian, mereka membantu keluarga ini memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Alhamdulillah para tetangga bisa nyengkuyung, bersama-sama membantu,” kata Kasi Pemerintahan Desa Badal, Adi Riski, yang mendampingi Tim Dinsos berkunjung.
Sebenarnya, terang Riski, Pemerintah Desa Badal, tidak tutup mata terhadap penderitaan keluarga Asin. Desa telah memberi bantuan kepada mereka.

“Desa membantu sembako dan pembalut,” imbuh Riski.
Baca Juga : Bioskop Online Putar Spesial Film Pesantren di Kediri
Sekeluarga ini memang memerlukan pembalut. Sebab mereka kesulitan buang air ke kamar mandi.
Selain pembalut, tentunya mereka butuh uang untuk memenuhi kebutuhan hidup lantaran tidak ada yang mampu bekerja.
Riski pun mengungkapkan, Pemdes Badal sebenarnya ingin memberikan bantuan berupa uang tunai untuk dimanfaatkan keluarga Asin. Sayangnya, keinginan itu tak bisa direalisasikan.
Penyebabnya, keluarga Asin sudah terdaftar sebagai penerima BPNT. Alhasil, mereka tidak bisa diusulkan dalam program bantuan BLT Dana Desa.
Baca Juga : TK di Kediri Helat Selebrasi Kreativitas Kolaborasi
Melihat kondisi keluarga Asin, Dinsos Kabupaten Kediri bermaksud mengusulkan bantuan uang tunai agar bisa dipakai sehari hari.
Kasi Rehabilitasi Sosial Dinsos Kabupaten Kediri, Joko menyatakan akan segera memasukkan Wiji Yanti dalam daftar penerima program asistensi sosial penyandang disabilitas berat. Dengan begitu, setidaknya keluarga ini bisa menerima bantuan bantuan uang tunai sebesar Rp300 ribu setiap bulannya. [nm/ted]






