Jember (beritajatim.com) – Andang Subaharijanto, dosen dan Ketua Senat Universitas Jemjber di Kabupaten Jember, Jawa Timur, menilai Pemilihan Presiden 2024 berjalan landai dan lebih kondusif jika dibandingkan momentum serupa pada 2019.
“Isu-isu yang muncul lebih sengit pada pemilu sebelumnya. Ini terjadi karena kemampuan Presiden Jokowi untuk membangun sinergi antarkekuatan politik yang ada, harus kita akui,” kata Andang, ditulis Sabtu (7/10/2023).
Menurut Andang, ditariknya Prabowo Subianto yang berhadapan dengan Jokowi pada Pemilu 2019 ke gerbong pemerintahan, memberi kontribusi yang cukup terhadap situasi saat ini. Perjodohan Anies Baswedan dengan Muhaimin Iskandar juga memberikan kontribusi terhadap melunaknya ketegangan pembelahan politik ‘cebong dan kampret’.
“Kita tahu meskipun Anies selama ini dianggap antitesis Jokowi, ketika menggandeng Cak Imin, saya kira isu perubahan yang dinyanyikan Anies tidak akan senyaring kemarin-kemarin. Bagaimana dia mau teriak isu perubahan, sementara mitranya adalah orang yang dua periode kepemimpinan Jokowi adalah bagian dari pemerintahan. Ini yang membuat situasi saat ini jauh lebih kondusif,” kata Andang.
Andang melihat Prabowo senantiasa memuji Jokowi dalam setiap kesempatan. “Bahkan saat berpidato di HUT Partai Amanat Nasional, beliau mengatakan: tim kami adalah tim Presiden Jokowi. Ini kan sepertinya sudah tidak ada perlawanan warisan kemarin,” katanya.
Andang menilai pemilihan presiden tahun depan akan diikuti ‘orang-orang Jokowi’. “Prabowo bagian dari pemerintahan Jokowi. Ganjar dengan sendirinya. Nah, Anies kemarin memang antitesis Jokowi, dan kemudian mengambil Muhaimin. Jokowi juga tidak memberhentikan menteri-menteri dari Nasdem. Nasdem juga bagian dari pemerintahan,” katanya.
Namun, di tengah kondusifnya suasana, Andang belum melihat semua calon presiden menyampaikan gagasan-gagasan secara menyeluruh. “Mungkin menunggu lengkap pasangannya,” katanya.
Andang memgkritik pembentukan koalisi politik di Indonesia yang berdasarkan ketokohan. “Koalisi tokoh, bukan koalisi pokok. Koalisinya orang, bukan koalisi gagasan atau ideologi. Asal cocok orangnya, soal ideologi nantilah. Kalau koalisi ideologi, tidak akan sembarangan kita bisa berkoalisi. Harus clear dari sudut ideologi,” katanya.
Fenomena ini harus dibaca dari sudut pandang pergumulan ideologi. “Klasifikasi ideologi partai-partai sudah mengalami deideologisasi,” kata Andang.
“Kita lihat saja, partai-partai yang muncul rata-rata dikarenakan mengalami perpecahan saat pemilihan ketua. PDI dengan PDI Perjuangan. Golkar selalu melahirkan partai baru, seperti Gerindra, Hanura, itu adalah pecahan-pecahan,” kata Andang.
“Ini representasi dari deideologisasi politik, sehingga yang terjadi cenderung kepada pragmatisme politik. Maka koalisi yang muncul adalah koalisi tokoh, karena akan mengikuti dinamika atau ritme kepentingan para tokoh, bukan ideologi yang diterjemahkan partai,” kata Andang. [wir]






