Situbondo, (beritajatim.com) – Setelah 12 hari menjalani pencarian, sesosok kerangka manusia yang diduga kuat merupakan jasad Suwardi (68), warga Dusun Sidomulyo, Desa Sumberwaru, Kecamatan Banyuputih yang dilaporkan hilang sejak 4 April 2026, akhirnya ditemukan di dalam kawasan Taman Nasional (TN) Baluran, Kamis (16/4/2026).
Kepastian ini disampaikan oleh Novix Heryadi, Kasubsi Operasi dan Siaga Kantor SAR Banyuwangi, saat dikonfirmasi terkait perkembangan pencarian warga lanjut usia tersebut.
Novix menjelaskan bahwa jasad ditemukan dalam kondisi berupa tulang belulang di Blok Curah Bedi, sekitar 6 kilometer dari titik lokasi terakhir korban diketahui (LKP).
“Kami menerima informasi dari tim gabungan di lapangan bahwa pada pukul 15.00 WIB, dua orang pencari madu atas nama Harianto dan Yuli menemukan keberadaan korban. Lokasinya cukup jauh di dalam hutan,” ujar Novix Heryadi, Jumat (17/4/2026) pagi.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, penemuan berawal ketika kedua saksi mencium bau tidak sedap di sekitar lokasi. Setelah dilakukan pencarian, mereka menemukan sebuah tas hitam serta tulang belulang yang masih terbungkus sepatu. Saksi segera mendokumentasikan temuan tersebut dan mengirimkannya kepada keluarga korban untuk dikonfirmasi.
“Proses evakuasi sendiri melibatkan tim gabungan dari Polsek Banyuputih, petugas TN Baluran, Babinsa, BPBD, serta Tagana. Korban kemudian dievakuasi menggunakan ambulans Puskesmas Banyuputih ke RS Asembagus,” tambah Novix.
Pukul 19.00 WIB, tim Inavis Polres Situbondo bersama pihak medis melakukan pemeriksaan. Berdasarkan pengakuan keluarga yang melihat langsung barang-barang di lokasi—seperti baju, sepatu, dan handphone—dipastikan bahwa kerangka tersebut adalah Suwardi, yang tercatat hilang dengan Surat Keterangan Tanda Lapor Kehilangan Orang Nomor: SKTLK-OH/03/IV/YAN.2.4.1./2026/Situbondo/SPKT Polsek Banyuputih.
Kondisi Fisik dan Dugaan Penyebab Kematian
Lebih lanjut, Novix Heryadi memaparkan hasil pemeriksaan medis terhadap jenazah. Dari hasil observasi, kondisi tulang belulang korban terlihat masih utuh dan lengkap, namun proses pembusukan telah terjadi secara alami.
Tim medis RS Asembagus menyampaikan bahwa tubuh korban sudah terurai dan tidak beraturan. Hal ini diduga kuat karena korban menjadi mangsa binatang liar setelah meninggal dunia. “Dari kondisi gigi, juga dipastikan usianya di atas 60 tahun, sesuai dengan identitas korban,” jelas Novix.
Meskipun sempat dilakukan pencarian besar-besaran beberapa waktu lalu oleh tim SAR gabungan, korban baru ditemukan 12 hari kemudian. Pihak keluarga yang diwakili oleh Sarianto (adik kandung korban) telah menyatakan ikhlas dan tidak akan menuntut untuk dilakukan proses otopsi lebih lanjut.
Hingga berita ini diturunkan, jenazah Suwardi telah diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan. Pihak Basarnas Banyuwangi bersama BPBD Situbondo menghentikan operasi pencarian dan mengucapkan belasungkawa kepada keluarga korban. (awi/aje)






