Jember (beritajatim.com) – Kepala Badan Pusat Statistik Jember Tri Erwandi menilai geliat perekonomian di Kabupaten Jember, Jawa Timur, cukup masif. Namun ia meminta pemerintah daerah bekerja keras untuk menjaga inflasi.
“Dengan aksi (program) Pak Hendy, yang setiap minggu di alun-alun selalu full (kegiatan) masyarakat, (sektor) UMKM, perdagangan, jasa, bergerak. Perekonomian sepertinya sudah mulai bangkit,” kata Erwandi, dalam pembukaan Forum Group Discussion Indikator Sosial Ekonomi Kabupaten Jember, di Hotel Java Lotus, Kamis (29/12/2022).
[berita-terkait number=”5″ tag=”pemkab-jember”]
“Tapi kalau (geliat ekonomi) ini diikuti inflasi, ekonomi tumbuh, tapi dibayang-bayangi kenaikan harga. Daya beli menurun. Tidak ada artinya, perekonomian naik, tapi dibayangi inflasi tinggi,” tambah Erwandi.
Berdasarkan data BPS, inflasi tahunan saat ini tidak seperti biasanya. “Kalau sebelumnya, inflasi tahunan tidak sampai dua persen. Berarti inflasi bulanannya kecil. Nah, pada 2022, kurang lebih inflasi tahunan sudah mencapai 5, 6, 7 persen. Sedangkan angka tahunan ini tergantung pergerakan inflasi bulanan. Karena ini terkait daya beli masyarakat, maka kestabilannya patut dijaga,” katanya.
Pertumbuhan ekonomi Jember sebelum pandemi Covid-19 rata-rata lima persen. “Begitu Covid datang pada 2020, pertumbuhan ekonomi minus 2,98 persen. Tapi pada 2021, karena kita sudah mulai bersahabat dengan Covid, naik jadi empat persen,” kata Erwandi.
Bupati Hendy Siswanto menilai, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) diperlukan untuk mengendalikan harga barang pokok penting. “Sekarang perdagangan antardaerah sudah mulai terjadi. Produksi gabah di Jember tinggi, daerah lain ambil gabah di Jember. Ini harus kita sikapi bagaimana strategi pemasarannya,” katanya.
“Uang yang kami miliki, masyarakat yang kami miliki, sumber daya alam yang ada, harus kami treatment. Kami masih banyak judul lagu (persoalan): stunting, pengangguran, kemiskinan. Itu bisa diselesaikan semua dengan titik awal bagaimana mengendalikan inflasi,” kata Hendy.
Hendy mengatakan, inflasi wajib dikendalikan. “Kalau tidak ada inflasi, deflasi terus-terusan, tidak ada yang beli (barang). Adanya inflasi menandakan kita mampu membeli, tapi inflasi yang harus dikendalikan. Inflasi 3-4 persen cukup. Tidak boleh sampai 5-7 persen. Itu akan membahayakan,” jelasnya.
Menghadapi ancaman krisis ekonomi global yang membayangi Indonesia tahun depan, Hendy mengaku tak risau. Ia percaya ekonomi masyarakat di Kabupaten Jember masih akan terus bergerak.”Saya tidak terlalu khawatir tentang krisis ekonomi. Jember tidak mengenal itu. Saya sangat optimistis. Indonesia juga sangat optimistis. Tapi kita tetap harus waspada dan hati-hati,” katanya. [wir/kun]






