Cimahi (beritajatim.com) – Kementerian Sosial menyoroti sebuah kasus yang menyentuh hati di Kota Cimahi. Di sebuah gang sempit di Kelurahan Citeurep, Kecamatan Cimahi Utara, terdapat sebuah rumah dengan luas hanya 70 meter persegi yang dihuni oleh 18 keluarga, dengan total 46 jiwa. Kondisi ini sontak menjadi viral di media sosial, menggugah perhatian masyarakat akan pentingnya kualitas hidup yang layak.
Kementerian Sosial tidak tinggal diam. Dengan pendekatan humanis dan penuh empati, mereka mengajak para penghuni rumah tersebut untuk sementara tinggal di sentra milik Kementerian Sosial. Di sana, mereka mendapatkan Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) serta berbagai bantuan lainnya untuk membangun kembali kehidupan yang lebih baik.
Sebanyak 14 keluarga dari 18 keluarga yang awalnya tinggal di rumah tersebut, kini sudah tinggal di sentra milik Kementerian Sosial. Mereka menerima pendampingan dan dukungan untuk beradaptasi dengan kehidupan baru yang lebih baik. Salah satu keluarga yang telah berusaha hidup mandiri adalah keluarga Suherman. Suherman (63), bersama istrinya Ny. Yani (42) dan ketiga anaknya, kini tinggal di Sentra Abiyoso Cimahi.

Ny. Yani mendapatkan pelatihan wirausaha laundry, sementara Suherman masih menjalani penanganan kesehatan. Keinginan untuk membangun kehidupan yang lebih baik jelas terlihat dari langkah mereka. Ny. Yani berharap bisa membuka usaha laundry sebagai sumber pendapatan baru bagi keluarganya.
Menteri Sosial, Tri Rismaharini, dengan tegas menekankan pentingnya pendidikan bagi anak-anak di keluarga tersebut. Oleh karena itu, anak Suherman yang bernama Amira (8) kini bersekolah di SDN Mandiri 3 Utama Cimahi, yang berlokasi dekat dengan Sentra Abiyoso. Amira merasa senang bisa belajar dan bermain dengan teman-teman barunya.
Selain mendapatkan pendidikan yang layak, Amira juga menerima berbagai perlengkapan sekolah dari Sentra Abiyoso, termasuk sepatu dan seragam sekolah. Kementerian Sosial ingin memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang cerah.

Kakak Amira, Ade Heriyani (11), yang pernah berhenti sekolah karena masalah biaya, kini sedang diupayakan untuk kembali bersekolah di tempat yang sama dengan adiknya. Ade sebelumnya terbiasa membantu ekonomi keluarga dengan menjual gorengan, namun kini pemerintah berusaha membujuknya untuk kembali mengejar pendidikan. Dalam sehari, Ade bisa menghasilkan Rp 3.000 hingga Rp 6.000 dari hasil jualan, tetapi masa depan yang lebih baik adalah prioritas utama.
Sentra Abiyoso Cimahi terus memberikan pendampingan dan bimbingan kepada anggota keluarga yang lain agar bisa mandiri secara ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan. Program-program seperti ini sangat penting untuk menciptakan masyarakat yang mandiri dan sejahtera.
Kementerian Sosial juga mengidentifikasi kasus ini melalui petugas Pemutakhiran Data Pemilih (Pantarlih) yang mendata para pemilih di wilayah tersebut. Temuan ini mengejutkan banyak pihak, mengingat kondisi rumah yang sangat sempit dengan hanya satu kamar mandi kecil untuk 46 jiwa. Namun, dari situasi yang penuh tantangan ini, lahir harapan baru untuk masa depan yang lebih baik. [ian]






