Pacitan (bBeritajatim.com) – Musim kemarau tahun ini di Kabupaten Pacitan diprediksi berlangsung lebih panjang dibandingkan dua tahun sebelumnya. Kondisi tersebut diantisipasi serius oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan dengan mulai melakukan berbagai langkah mitigasi sejak dini.
Kepala Pelaksana BPBD Pacitan, Erwin Andriatmoko, menyebut prediksi tersebut mengacu pada hasil pemantauan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta peringatan dari BPBD Provinsi Jawa Timur.
“Kalau melihat prediksi dari BMKG dan warning dari BPBD provinsi, kemungkinan kemarau tahun ini lebih panjang dibanding dua tahun yang lalu,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).
Sebagai langkah awal, BPBD Pacitan telah diminta untuk menghitung estimasi dampak kekeringan dengan mengacu pada kondisi dua tahun terakhir. Perhitungan tersebut nantinya akan ditambah dengan asumsi durasi kemarau yang lebih panjang, bahkan bisa mencapai tambahan satu hingga dua bulan.
Menurut Erwin, langkah ini penting mengingat keterbatasan anggaran daerah. Dengan melakukan perencanaan lebih awal, pihaknya berharap bisa mendapatkan dukungan dari pemerintah provinsi.
“Dengan kondisi APBD yang terbatas, kita mendahului koordinasi ke provinsi. Harapannya jika ada anggaran, Pacitan bisa diprioritaskan karena secara tradisional wilayah kita memang lebih rawan kekeringan,” jelasnya.
Tak hanya itu, BPBD Pacitan juga berencana menjalin koordinasi lebih lanjut dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam waktu dekat guna memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan ekstrem.
Erwin menambahkan, salah satu fokus utama saat ini adalah pemetaan ulang wilayah-wilayah yang sebelumnya sudah tergolong aman (zona hijau), namun berpotensi terdampak jika kemarau berlangsung lebih lama.
“Yang perlu diantisipasi adalah daerah yang sebelumnya aman, apakah sumber airnya masih ada atau tidak. Kalau tidak, maka wilayah terdampak bisa meluas,” katanya.
Ia juga menyoroti keberlanjutan sumber air seperti sumur bor yang selama ini menjadi andalan masyarakat. Menurutnya, debit air perlu dihitung ulang karena berpotensi menurun jika kemarau berkepanjangan.
“Walaupun sudah ada sumber dan sumur bor, kalau kemarau panjang kita harus hitung lagi debit airnya seperti apa. Itu yang sekarang kita petakan untuk langkah antisipasi,” tambahnya.
BPBD Pacitan pun mengimbau masyarakat untuk mulai meningkatkan kewaspadaan dan menghemat penggunaan air sejak dini, guna menghadapi kemungkinan musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering tahun ini. (tri/but)






