Blitar (beritajatim.com) – Suspek campak di Kabupaten Blitar terus meluas. Total hingga kini ada lima balita yang terdiagnosa suspek campak.
Bahkan, satu balita yang mengalami gejala mirip campak harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Srengat Kabupaten Blitar. Balita berusia 9 bulan tersebut mengalami gejala mirip campak yakni demam serta muncul ruam merah di sekujur tubuhnya.
“Ya sejauh ini ada lima balita yang terdiagnosis suspek campak satu balita saat ini masih menjalani perawatan di RSUD Srengat Kabupaten Blitar,” kata kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Blitar Anggit Ditya Putranto, Rabu (1/2/2023).
Sementara itu, empat balita yang terdiagnosis suspek campak telah diperbolehkan menjalani rawat jalan. Kondisi empat balita tersebut telah membaik sehingga sudah diizinkan pulang dan menjalani rawat jalan.
Empat balita tersebut berasal dari Kecamatan Sutojayan, Kecamatan Ponggok, Kecamatan Talun serta kecamatan Udanawu. 4 balita yang telah diizinkan rawat jalan tersebut sudah tidak mengalami panas.
Serta diperkirakan dalam waktu 3 hingga 4 hari pasca diizinkan pulang dari rumah sakit, ruam merah pada tubuh pasien suspek campak akan hilang.
[berita-terkait number=”5″ tag=”Blitar”]
“Kalau kondisi balita yang sudah diizinkan pulang sudah membaik sudah tidak panas dan diperkirakan biasanya kalau suspek campak itu tiga atau empat hari ruam merahnya sudah akan hilang,” jelas Anggit.
Dinkes Blitar sendiri masih akan mengambil sampel balita yang berasal dari Kecamatan Talun. Nantinya sampel tersebut akan dikirim ke Dinkes Surabaya untuk dilakukan uji laboratorium untuk mengetahui apakah balita tersebut terkena campak atau penyakit yang lain.
Empat balita yang lain juga telah diambil sampelnya oleh dinas kesehatan. Keseluruhan sampel tersebut telah dikirim Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar ke dinas kesehatan provinsi Jawa Timur namun hingga kini hasilnya belum keluar.
“Kami masih akan mengambil satu sampel lagi yang belum terambil yakni dari anak yang berasal dari Talun nantinya akan dikirim ke Surabaya Untuk mengetahui penyakitnya apa untuk memastikan seperti itulah,” imbuhnya.
Menurut Anggi tambahan 4 kasus suspek campak yang terakhir ini terjadi setelah keempat balita tersebut menjalani vaksinasi rubella. Jadi kemungkinan besar empat balita yang termasuk suspek campak ini adalah kejadian ikutan pasca imunisasi (Kipi) dari vaksinasi campak dan rubella.
[berita-terkait number=”5″ tag=”kesehatan”]
Meski demikian Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar masih menunggu hasil uji sampel yang dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.
Penyebaran penyakit campak sendiri terbilang cepat maka dari itu Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar menghimbau agar para orang tua untuk menjaga pola hidup sehat. Selain itu para orang tua juga diminta untuk segera melakukan vaksinasi campak dan rubella bagi sang anak.
Dengan vaksinasi MR (measles) dan (rubella) maka akan memperkecil potensi balita atau anak-anak terkena penyakit campak. Para orang tua yang anaknya memiliki gejala mirip campak seperti panas dan ruam merah pada tubuh juga diminta untuk tetap tenang dan segera memeriksakan putra-putrinya ke rumah sakit atau puskesmas.
Angka kematian dari penyakit campak sendiri terbilang cukup rendah. meski demikian penyebaran penyakit campak ini cukup cepat sehingga para orang tua tetap diminta waspada dan selalu menjaga pola hidup sehat.
“Kalau pencegahan yang paling utama adalah dengan melakukan vaksinasi MR, dengan vaksinasi itu maka dapat meminimalisir terjadinya penyakit campak pada anak,” pungkasnya. [owi/beq]






