Lamongan (beritajatim.com) – Sholahudin (46), petani jambu siumik pala asal Kabupaten Lamongan sukses melakukan budidaya. Tak hanya itu, dia juga mampu menyulap lahan jambu tersebut menjadi agrowisata yang cukup menjanjikan.
Pria yang akrab disapa Kaji Sholah itu mengungkapkan bahwa pohon jambu tersebut ia tanam sejak 2 tahun lalu di atas lahan seluas 7 hektar, yang tersebar di Desa Brangsi, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan dan sekitarnya.
Sebelum ditanami jambu jenis siumik pala, tutur Kaji Sholah, lahan miliknya itu terbilang kurang produktif dan kerap dianggap sebagai tanah yang kering. Tanah itu dulunya dimanfaatkan untuk menanam jagung.
Kaji Sholah mengaku, budidaya pohon jambu siumik pala miliknya itu mampu dipanen hingga puluhan ton per bulannya. Bahkan, keuntungan yang diraup saat panen melimpah ruah dan bisa mencapai ratusan juta rupiah.
“Alhamdulillah, kita mencoba untuk membawa satu perubahan bagi Desa Brangsi, Kecamatan Laren ini yang asalnya berupa tanaman pangan seperti jagung di lahan yang kering saat ini kita rubah dengan tanaman jambu siumik pala. Hasilnya luar biasa,” ujar Kaji Sholah, saat ditemui di kebun miliknya, Senin (10/7/2023).
Selain itu, Kaji Sholah menjelaskan, dirinya tertarik untuk menanam jambu siumik pala ini karena buahnya memiliki beberapa keistemawaan. Selain itu, harga jual jambu ini juga masih cukup tinggi dan menarik banyak perhatian.
Di antara keistimewaan jambu siumik pala itu, sebut Kaji Sholah, memiliki rasa yang manis dengan kandungan air yang banyak, daging buahnya tebal dan bijinya hampir tidak ada. Buah dari pohon jambu siumik pala ini juga bisa dipanen setiap hari, bahkan sepanjang tahun jika dirawat dengan baik.
“Jambu siumik pala ini rasanya lebih renyah dan segar. Ukuran buahnya cukup besar. Paling besar bisa 1 sampai 1,2 kg. Selain cepat berbuah, pohon jambu jenis ini juga lebih pendek, sehingga lebih memudahkan petani dalam perawatannya,” paparnya.
Baca Juga: Gusdurian Lamongan Gelar Diskusi Bertajuk Ngaos Industrialisasi, Pemkab Diminta Insyaf
Masih kata Kaji Sholah, pihaknya tak menanam pohon jambu ini dari biji, namun langsung dari hasil stek alias cangkok, sehingga selain cepat berbuah, pohonnya juga tidak sampai tinggi. Selain menanam pohon jambu, di sela-sela lahan Kaji Sholah itu juga ditanami pohon durian.
“Ada ribuan pohon jambu siumik pala yang sudah kami tanam. Kita juga mengembangkan wisata agro petik jambu siumik pala. Para pengunjung bisa langsung metik buah dari pohon, menikmatinya langsung di tempat. Serta bisa bermain juga di sini,” bebernya.
Tak hanya disajikan di kebun wisatanya, Kaji Sholah mengaku, buah jambu itu juga didistribusikan di market modern. Menurutnya, buah jambu miliknya dijual dengan harga yang cukup terjangkau.
“Per pohon jambu bisa banyak menghasilkan buah. Buahnya kita bungkus untuk menjaga keistimewaan rasa dan bentuknya. Biasanya buah jambu siumik pala ini kita jual Rp15 ribu per kilonya,” jelas pria yang juga menempuh studi durian, di Pahang, Malaysia tersebut.

Lebih lanjut, Kaji Sholah menerangkan, saat ini setidaknya ada puluhan petani sekitar yang diberdayakan untuk membantu mengelola kebun buah jambu miliknya yang memiliki luas 7 hektar tersebut.
Kaji Sholah berharap, apa yang dilakukannya bisa menginspirasi para petani lain di Lamongan. Dia juga mengajak para petani untuk terus berinovasi dalam memajukan sektor pertanian di wilayahnya masing-masing.
“Mari terus berinovasi, mencoba dan mencoba, sehingga kita tahu tanaman apa yang bisa dikembangkan di wilayah kita. Seperti halnya di sini, yang ternyata jambu, pisang, kelengkeng dan bahkan durian bisa tumbuh dengan baik,” ajaknya.
“Durian yang ada di kebun kami ini mampu berbuah dengan baik dan kualitasnya premium. Ada durian duri hitam dan musang king yang juga sudah kita buktikan bisa berbuah di kebun kami. Apalagi jambu, hasilnya sangat melimpah. Untuk itu, mari kita terus berinovasi,” tambahnya.[riq/ted]






