Sehari menjelang pertandingan Persebaya melawan Arema, saya ditelepon seorang teman. Dia lumayan disegani di kalangan Bonek, suporter Persebaya.
Kawan saya itu menanyakan pendapat soal sejumlah insiden menjelang laga derbi Jawa Timur itu. Selain ada bentrok fisik orang-orang yang diduga dari dua kelompok suporter, ada aksi vandalisme terhadap sejumlah mural bertema Persebaya di dinding-dinding Kota Surabaya. Dia rupanya cemas situasi tersebut bisa berdampak pada pertandingan di Gelora Bung Tomo, Sabtu (7/12/2024).
Saya mengaku tidak mendengar ada bentrokan fisik. Namun aksi vandalisme terhadap sejumlah mural di Surabaya, saya anggap hanyalah usaha segelintir orang untuk membuat posisi sepadan dan rivalitas dengan Arema (khususnya Aremania, tentu saja) tetap relevan di mata Bonek.
Setelah tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022, Bonek terkesan memandang rivalitas dengan Arema dan Aremania tak lagi relevan. Kematian 135 orang (satu orang di antaranya Bonek) karena kepanikan akibat gas air mata sedikit banyak mengubah cara pandang Bonek terhadap sepak bola.
Saya kira Bonek adalah kelompok suporter yang paling bisa memahami arti kehilangan nyawa dalam pertandingan sepak bola. Kematian karena sepak bola sangat lekat dengan mereka. Tak semuanya karena perkelahian dengan suporter klub lain. Sebagian karena kecelakaan.
Kelompok pemerhati sepak bola Save Our Soccer pernah melansir data yang menempatkan Bonek di urutan teratas kelompok suporter sepak bola dengan korban jiwa terbanyak di Indonesia sejak Liga Indonesia 1994-95 hingga 2016.
Tercatat sepanjang 21 tahun, ada 12 orang suporter Persebaya yang meninggal karena urusan sepak bola. Suhermanyah adalah korban jiwa pertama dalam pertandingan PSIM melawan Persebaya di Stadion Mandala Krida Yogyakarta, 28 Januari 1995.
Minggu, 3 Juni 2012, Purwo meninggal dunia setelah aparat kepolisian menembakkan gas air mata usai pertandingan Liga Primer Indonesia antara Persebaya melawan Jakarta FC. Ini kejadian pertama suporter meninggal dalam insiden di Stadion Gelora 10 Nopember.
Menurunnya intensitas ketegangan antara Persebaya dan Arema bisa ditengok dari kedatangan rombongan tim Singo Edan ke Stadion Gelora Bung Tomo dengan menggunakan bus. Biasanya, aparat kepolisian memilih opsi aman dengan mengangkut pemain dan ofisial dalam kendaraan taktis lapis baja.
Perubahan sarana transportasi ini semakin menurunkan tensi. Tidak ada lagi nuansa dan suasana perang, atau menjadikan ini pertandingan hidup dan mati.
Di media sosial, sejak Tragedi Kanjuruhan, psywar antara Bonek dan Aremania tak lagi galak. Beberapa akun yang teridentifikasi dari dua kubu mencoba memprovokasi. Namun semua berhenti, begitu diingatkan tentang 135 orang yang tak kembali ke keluarga masing-masing hanya karena sepak bola.
‘Kami di Atas Kalian’ menjadi slogan yang akrab di kalangan Bonek yang menunjukkan betapa tidak relevannya derbi tersebut untuk ditanggapi serius. Terlebih dari aspek manajerial, Persebaya tumbuh lebih cepat dan lebih sehat dibandingkan Arema.
Beberapa hari sebelum pertandingan, akun ofisial Persebaya di media sosial melansir kabar soal penandatanganan kesepakatan kerja sama antara CEO Persebaya Azrul Ananda dengan CEO Football West Jamie Harnwell, di kantor Menteri Olahraga dan Rekreasi Western Australia, 4 Desember 2024. Penandatanganan nota kesepahaman itu disaksikan David Templeman, Western Australia Sport and Recreation Minister.
Dengan kerja sama tersebut, Persebaya bisa mengirimkan tim senior ke Perth pada medio Juli 2025 untuk melakoni mini training camp dan beruji coba. Kerja sama ini juga membuka peluang Bonej untuk tur ke Perth, menyaksikan pertandingan persehabatan Persebaya di Sam Kerr Football Centre.
Kabar ini membangkitkan kebanggaan Bonek dan sedikit-banyak menggerus aroma permusuhan dengan Aremania. Kini mereka memandang Arema hanya tetangga yang berisik yang tak perlu ditanggapi terlalu serius. Meningkatnya level Persebaya membuat Bonek mau tidak mau juga harus meningkatkan level pemahaman terhadap sepak bola dengan tak mudah umuk dan ngamuk.
Meredanya tensi Persebaya melawan Arema tentu saja menjadi kabar baik bagi sepak bola Indonesia. Selain Persija melawan Persib, Persebaya melawan Arema adalah pertandingan yang paling menyita perhatian aparat keamanan karena berpotensi rusuh. Insiden dalam pertandingan tersebut bisa menjadi bahan pembicaraan berhari-hari dan berdampak luas dalam kehidupan sosial.
Hasil di atas lapangan hijau juga menunjukkan betapa tidak sepadannya Arema dengan Persebaya di mata Bonek. Sejak kembali berlaga di Liga 1 pada 2018, Persebaya lebih dominan daripada Arema. Dari sepuluh pertandingan Liga 1, Persebaya memenangi tujuh pertandingan. Dua pertandingan dimenangi Arema, dan sekali pertandingan berakhir seri.
Pertandingan pekan ke-13 di Gelora Bung Tomo, Sabtu (7/12/2024), menggenapkan dominasi Persebaya menjadi delapan kemenangan. Persebaya unggul 3-2 melalui pertandingan yang berjalan ketat.
Unggul cepat melalui Flavio Silva pada menit 17 dan Malik Risaldi pada menit 21, barisan pertahanan Persebaya melakukan serangkaian kesalahan yang berbuah gol penyama kedudukan. Gol bunuh diri Slavko Damjanovic pada menit 44 dan eksekusi penalti Wiliam Marcilio pada menit 83 membuat pertandingan itu di ambang seri.
Namun gol Flavio dari titik putih pada menit 90+6 membuat Ivo Ananda, istri Azrul Ananda, histeris dan menangis haru bersama 25 ribu penonton lainnya.
Kendati tidak didampingi Paul Munster di bangku cadangan karena terkena sanksi akumulasi kartu kuning, Ernando Ari dan kawan-kawan tampil spartan dan pantang menyerah. Asisten pelatih Uston Nawawi lagi-lagi menunjukkan tidak ada yang salah dengan plesetan namanya: Uston Nawawin, yang mengacu pada kebiasannya memenangi pertandingan setiap kali jadi pelatih dadakan.
Persebaya dan Arema sama-sama bermain terbuka. Ini ditunjukkan dengan banyaknya tembakan ke gawang (11 tembakan ke gawang Arema dan 13 tembakan ke gawang Persebaya). Di luar blundernya yang menyebabkan gawang Ernando kebobolan dan Persebaya terkena hukuman penalti, Slavko berhasil menjadi benteng yang kokoh.
Gol kedua Persebaya diawali tendangan bebas Slavko. Bola dikirimkan ke Flavio. Satu sentuhan, bola dioperkan ke Toni Firmansyah yang berbuah assist kepada Malik Risaldi.
Penampilan Mohammed Rashid lagi-lagi menjadi kunci kemenangan. Dia memang tidak menciptakan gol. Namun gol pertama dan ketiga Persebaya tak lepas dari andil pemain Palestina tersebut.
Sembilan detik sebelum gol pertama Flavio, Rashid berhasil merebut bola dari kaki William dan mengawali serangan cepat ke jantung pertahanan Arema.
Gol ketiga diawali dari Rashid yang mengintersep bola operan Pablo Oliveira. Pemain berkepala gundul itu mengoperkan bola kepada Malik Risaldi yang menusuk ke kotak penalti Arema. Jepitan Anwar Rifai terhadap kaki Malik berbuah hukuman penalti dari wasit Naufal Adya Fairuski.
Pertandingan itu sekali lagi menunjukkan mentalitas juara pemain Persebaya. Mereka tidak patah di bawah tekanan psikis dari puluhan ribu penonton. Bahkan saat harus bermain dengan 10 pemain sejak menit 80, karena sang kapten Bruno Moreira mendapat kartu kuning kedua.
Dikeluarkannya Bruno dari lapangan, membuat Arema yang sejak awal memang menguasai pertandingan semakin superior. Namun Persebaya menolak takluk di rumah sendiri.
Penampilan Malik Risaldi dan Toni Firmansyah patut dicatat. Selain menciptakan gol, Malik memberikan assist untuk Flavio dan menjadi otak terjadinya gol penentu kemenangan Persebaya. Toni juga memberikan assist kepada Malik dan berperan dalam skema gol pertama Persebaya.
Kini Munster harus memutar otak untuk mencari pengganti Bruno di lini depan sekaligus menunjuk kapten sebelum pertandingan melawan Persik di Kediri, Rabu (11/12/2024). Dia juga punya pekerjaan rumah untuk membuat Bruno bisa tampil lebih kalem dan tidak meledak-ledak seperti petasan cabe rawit.
Tugas seorang kapten memang tak mudah. Ia tak hanya menjadi jembatan komunikasi dengan wasit, namun juga menenangkan para pemain agar tak panik dalam situasi tertekan.
Ernando Ari layak menjadi opsi kapten, dilihat dari ketenangannya mengomando lini belakang. Opsi lain adalah Rashid yang menunjukkan level sebagai pemain tim nasional Palestina.
Kemenangan atas Arema ini membuat posisi Persebaya sebagai pemuncak sementara klasemen Liga 1 Musim 2024-25 semakin kokoh, terpaut enam angka dari Persija yang berada di posisi kedua. Namun tentu saja ini klasemen semu. Jika memenangi dua pertandingan ‘terutang’, maka Persib Bandung akan menyodok di posisi kedua dengan selisih satu angka saja.
Saya yakin hasil ini membuat kawan saya itu tersenyum. Kecemasannya pupus sudah. Dan mungkin hari ini, Bonek buikan hanya memperbaiki mural-mural yang jadi sasaran vandilisme, namun juga membuat mural baru yang menunjukkan dominasi Persebaya di atas tim tetangga yang berisik. [wir]







3 Komentar
kami bangga dengan bonek yang semakin dewasa ,sebagai suporter yang paling militan di wilayah Jatim bahkan bisa dicontoh oleh suporter lainnya,Bonek dan Bonita selalu mengedepankan loyalitas pada club kebanggaan warga Jatim ,khususnya untuk AREK AREK SUROBOYO,,kedepannya semoga bisa lebih berinovasi dlm memberikan dukungan di dalam stadion utk yel yel dan chant Persebaya,,,
from BONEX JAGIR
Wani…
Berubah menjadi lebih baik dan Lebih bermanfaat untuk Bangsa dan negara, Wani..!
Wani…
Berubah menjadi lebih baik dan Lebih bermanfaat untuk Bangsa dan negara, Wani..!