Curaçao dan pada akhirnya menjadi juru kunci Grup E Piala Dunia 2026. Namun rakyat di sana akan mengenang gol Livamo Comonencia ke gawang Jerman pada menit 21, yang bisa jadi tak akan terulang lagi pada masa mendatang dan menjadi satu-satunya momen dalam sejarah negara itu.
Curaçao memang kalah telak 1-7 dalam pertandingan itu. Namun mungkin kelak saat tua, Comonencia akan bercerita kepada cucu-cucunya dengan cara yang berbeda, dengan mengatakan bahwa mereka telah berhasil menahan negara juara dunia empat kali selama 17 menit.
Rakyat negara itu tak akan mengingat bagaimana Curaçao menjadi juru kunci Grup E dengan hanya mengantongi satu angka. Mereka akan lebih mengenang bagaimana penjaga gawang Eloy Room melakukan 15 kali penyelamatan yang membuat frustrasi pemain Ekuador dan mengakhir pertandingan dengan skor 0-0.
Setelah mengalahkan Argentina 2-1 dalam fase grup Piala Dunia 2022, pemerintah Arab Saudi menetapkan hari libur nasional bagi seluruh pelajar dan pegawai di sektor publik maupun swasta.Bursa Efek Saudi Tawadul juga mengumumkan akan menangguhkan perdagangan pada 23 November 2022 dan akan melanjutkannya esok harinya.
Tak ada yang peduli pada akhinya Arab Saudi hanya menjadi juru kunci Grup C dan Argentina menjadi juara dunia ketiga kalinya. Kemenangan atas Argentina yang masih diperkuat Lionel Messi hari itu sama berharganya dengan sebuah trofi. Dan kita melihat bagaimana pemain dan ofisial Arab Saudi berpelukan dan berjingkrak seolah telah memenangi sesuatu.
Sementara bagi Argentina, kekalahan itu akan dilupakan karena hanya bagian dari pertempuran, bukan kegagalan dalam peperangan. Dan memang demikiamlah adanya mentalitas negara-negara super power sepak bola. Trofi menjadi kensicayaan. Itulah kenapa pendukung mereka tidak menoleransi kegagalan, terutama jika itu terjadi di fase-fase awal sebagaimana yang dialami tim nasional Jerman yang dikalahkan Paraguay dalam Babak 32 Besar.
Bahkan Kanselir Friedrich Merz jadi sasaran kemarahan juga hanya karena mengunggah apresiasi terhadap penampilan timnas di akun media sosial X. Orang dekat Presiden Rusia Vladimir Putin, Kirill Dmitriev, pun ikut menyindir unggahan tersebut dengan menyebut: “Merz pandai terus-menerus merayakan kegagalan’.
Surat kabar Bild mengulas unggahan Merz itu sepanjang satu halaman dan menyamakannya dengan “gol bunuh diri” setelah Jerman tersingkir dari Piala Dunia.
Gelombang hujatan lebih keras dialami tim nasional Italia yang gagal lolos kualifikasi Piala Dunia 2026. Fabio Capello, mantan pelatih AC Milan dan tim nasional Inggris, menyebut itu sebagai aib. ”Saya masih tak percaya. Ini adalah tragedi, hal yang memalukan. Itu hal terburuk yang pernah terjadi dalam sejarah sepak bola Italia,” katanya.
Namun apa yang mereka alami tak seburuk yang dialami skuad Italia yang gagal dalam Piala Dunia 1966 setelah dikalahkan Korea Utara 0-1. Tomat busuk beterbangan dari kerumunan tifosi yang menunggu di bandara saat para pemain turun dari tangga pesawat.
Publik sepak bola di negara-negara (dan juga klub) yang terbiasa dengan kegagalan dan kelangkaan trofi internasional relatif lebih bisa melupakan kekalahan dan menghargai hasil positif sekecil apapun. Mereka mengabadikannya dengan melalui nostalgia dan bahkan mitos yang diceritakan secara turun-temurun dengam versi yang kerap kali dilebih-lebihkan.
Apapun hasil kualifikasi Piala Dunia dari masa ke masa (yang biasanya selalu gagal), selama puluhan tahun suporter kita merayakan keberhasilan tim nasional Indonesia menahan Uni Soviet 0-0 dalam perempat final sepak bola olimpiade di Melbourne, Australia, pada 29 November 1956. Kita (sengaja) lupa, bahwa Soviet menggasak timnas 4-0 dalam pertandingan ulang.
Penggemar sepak bola Surabaya akan selalu mengenang keberhasilan Niac Mitra mengalahkan Arsenal 2-0 di Stadion Gelora 10 Nopember pada 16 Juni 1983. Gol . Fandi Ahmad pada menit ke-37 dan Joko Malis pada menit ke-85 ke gawang Pat Jennings selalu dikenang sebagai bagian dari kedigdayaan sepak bola Surabaya, kendati hari ini Niac Mitra sudah almarhum.
Publik Surabaya juga akan mengenang kekalahan tipis 2-3 Persebaya dari Ajax Amsterdam pada 11 Juni 1975. Dua gol Persebaya dicetak Jacob Sihasale dan Rusdi Bahalwan. Sementara Ajax mencetak kemenangan melalui dua gol Ruud Geels dan sebiji gol Rene Notten.
Namun bagi sebagian negara, ekspektasi bisa meningkat dan diperbarui ulang dengan mengacu catatan prestasi yang ditorehkan kendati bukan beripa trofi juara. Keberhasilan Korea Selatan membuat kejutan dalam sejumlah Piala Dunia, terutama Piala Dunia 2002 saat mereka menembus empat besar, membuat publik di sana berharap hal serupa selalu terulang.
Maka kegagalan tim nasional Korea elatan menembus 32 Besar Piala Dunia 2026 disambut dengan makian ketika mendarat di Bandara Incheon. Kesuksesan sepak bola Korea Selatan di level Asia dan sejumlah kejutan di level internasional membuat memori publik bergeser dan tidak menoleransi kegagalan.
Apalagi di Grup A, Korea Selatan ‘hanya’ bersaing dengan tuan rumah Meksiko, Afrika Selatan, dan Ceko, yang tidak termasuk negara papan atas sepak bola. Hanya Meksiko yang layak diperhitungkan.
Lantas seberapa berhargakah makna memori di hadapan sebuah trofi? Trofi menghadirkan pengakuan tentang siapa yang terbaik di antara mereka yang telah bertarung dan berjuang. Tidak ada yang memungkiri itu.
Namun memori dan nostalgia membuat setiap peristiwa menjadi sebuah kemenangan dan capaian personal, bahkan mungkin dengan hanya menjadi penonton. Setap gol yang tercipta. Setiap penyelamatan di bawah mistar gawang. Setiap keindahan permainan di lapangan. Setiap hasil akhir yang tertera di papan skor.
Mungkin karena itulah pada saat bangsa Jerman merayakan trofi Piala Dunia pada 1954 dan 1974, dunia mengenang Hungaria dan Belanda, Bukan meratapi kekalahan mereka, namun merayakan sepak bola indah yang membahagiakan banyak orang dan mengembalikan makna sepak bola dalam keabadian. Kenangan adalah trofi bagi semua orang.
Seperti lirik lagu ‘Memori Baik’ Sheola On 7.
Senyum bahagia
Di setiap lembarnya
Kusimpan hingga kumenua.
Tak akan hilang ditelan zaman
Kau yang terbaik
Memori baik. [wir/aje]






