Surabaya (beritajatim.com) – Program Jendela Desa Inklusif (JDI) di Desa Wonomerto, Jombang, diharapkan mampu meningkatkan keterampilan hidup masyarakat dengan pelatihan berbasis produk lokal.
Inisiatif ini dipimpin oleh tiga organisasi mahasiswa dari Universitas Ciputra Surabaya dan melibatkan 15 mahasiswa yang menyusun sembilan pojok literasi sesuai kebutuhan desa.
Pelatihan mencakup keterampilan seperti meronce, crochet, anyaman, kolase, pengolahan ampas kopi, pemanfaatan olahan salak, pemanfaatan biji durian, baking, eco printing, serta kemampuan marketing.
Jony Eko Yulianto, dosen pendamping, menjelaskan bahwa program ini berfokus pada pengembangan kecakapan hidup untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat.
“Dengan mengolah hasil lokal, kami membantu warga desa menciptakan produk bernilai jual, seperti kue khas dari salak dan durian,” ujarnya, Rabu (18/9/2024).
Inklusivitas menjadi aspek penting dalam program ini. JDI melibatkan 50 peserta dari latar belakang beragam, termasuk difabel dan putus sekolah. Jony menekankan bahwa disabilitas bukanlah penghalang; peserta difabel diharapkan dapat menunjukkan kekuatan mereka.
Program yang berlangsung dari Juni hingga Oktober 2024 ini bertujuan membentuk ekosistem pertumbuhan ekonomi lokal. Program ini juga menekankan pada kesadaran pelestarian alam dan pemanfaatan sumber daya lokal untuk mendukung ekonomi sirkular.
Salah satu peserta, Heri mengungkapkan bahwa JDI tidak hanya memberikan keterampilan, tetapi juga menciptakan saluran untuk menjual produk melalui kemitraan dengan toko oleh-oleh.
“Saya belajar mengolah salak dan biji durian menjadi produk bernilai, yang juga meningkatkan penghasilan keluarga,” ungkapnya.
Kepala Desa Wonomerto, Siswoyo, berharap program ini akan mengubah pola pikir dan tindakan masyarakat, berdampak pada peningkatan kesejahteraan.
Dengan demikian, Jendela Desa Inklusif diharapkan menjadi model desa mandiri yang memaksimalkan potensi lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. [ipl/ian]






