Ringkasan Berita:
- Jemaah asal Pasuruan dan Surabaya menikmati akomodasi premium yang berjarak sangat dekat dengan pelataran Masjid Nabawi.
- Layanan katering Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menyajikan menu Nusantara guna menjaga stamina jemaah di tengah suhu panas.
- Petugas haji memberikan pendampingan medis gerak cepat (gercep) serta edukasi penggunaan aplikasi Nusuk bagi jemaah gagap teknologi.
- Visi Tri Sukses Haji diimplementasikan melalui penguatan pilar Ritual, Ekosistem Ekonomi, serta Peradaban dan Keadaban.
Madinah (beritajatim.com) – Ribuan jemaah haji asal Jawa Timur mulai merasakan langsung kemudahan ibadah melalui fasilitas hotel bintang lima dan katering bercita rasa Nusantara di Madinah guna mendukung visi Tri Sukses Haji 2026. Kehadiran fasilitas akomodasi yang representatif di sekitar Masjid Nabawi menjadi kunci utama dalam mewujudkan pilar Sukses Ritual yang aman, terutama bagi jemaah perempuan dan lansia.
“Alhamdulillah bahagia dan terharu, pelayanan bagus mulai dari pesawat sampai hotel, apalagi keluar hotel langsung pelataran Masjid,” kisah Kiki Amirotul Atqiya, jemaah asal KBIHU Haromain Pasuruan saat ditemui di pelataran Masjid Nabawi pada Jumat (1/5/2026).
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Haji Center (MHC) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, kenyamanan jemaah ini merupakan bagian dari operasional besar yang melayani lebih dari 62.000 jemaah Indonesia yang telah tiba di Tanah Suci. Di tengah suhu Madinah yang berkisar antara 35 hingga 39 derajat Celcius, pemenuhan gizi dan stamina jemaah melalui Sukses Ekosistem Ekonomi menjadi prioritas Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).
Katering Rasa Nusantara dan Layanan Medis Gercep
Kebutuhan pangan jemaah dipenuhi dengan sajian menu yang akrab di lidah masyarakat Indonesia. Meskipun berada ribuan kilometer dari tanah air, aroma bumbu Nusantara tetap hadir di setiap paket katering. Hal ini dirasakan langsung oleh jemaah yang mengaku stamina mereka tetap terjaga berkat asupan makanan yang sesuai selera.
“Makanannya enak di lidah kita, istimewa, walau kadang kangen sayur bayam atau kelor berkuah, tapi secara umum semuanya bagus,” tutur Ibu Istianah, jemaah asal Pasuruan.
Selain urusan perut, perlindungan terhadap jemaah lansia dan disabilitas dibuktikan melalui kesigapan petugas medis. Tanpa prosedur birokrasi yang rumit, petugas berompi cokelat memberikan tindakan inisiatif kepada jemaah yang mengalami gangguan kesehatan di kamar hotel.
Ibu Reni, jemaah asal Surabaya yang sempat jatuh sakit, memberikan testimoninya. “Pelayanan petugas joss dan gercep, orang sakit langsung didatangi ke kamar dan diberi tindakan inisiatif tanpa pakai lama,” ungkapnya yang kini telah kembali bugar.
Edukasi Digital dan Budaya Antre
Kemenhaj juga menekankan pilar Sukses Peradaban dan Keadaban dengan membudayakan antre dan kesabaran di lingkungan hotel. Petugas secara telaten melakukan visitasi untuk mendampingi jemaah, khususnya dalam pemanfaatan teknologi digital seperti aplikasi Nusuk untuk akses ke Raudhah.
Istianah menambahkan bahwa pendampingan petugas sangat membantu jemaah yang awalnya kesulitan dengan sistem digital. “Petugas tidak ada yang cuek, sangat bagus mengarahkan termasuk membantu kami menggunakan aplikasi Nusuk, jadi kita tidak kerepotan,” terangnya.
Apresiasi mendalam juga datang dari unsur pembimbing ibadah. Ustaz Muhammad Badril Alfan menyampaikan rasa syukurnya atas tata kelola haji tahun ini yang dinilai sangat memuliakan jemaah. “Kami ucapkan ribuan terima kasih kepada Kemenhaj, terutama Bapak Menteri, atas pelayanannya dan mohon doa agar kami kembali dengan predikat mabrur,” pungkasnya. [ian/beq]






