Jember (beritajatim.com) – Kendati saat ini Jawa Timur mengalami surplus, beras impor tetap masuk. Pemerintah Provinsi Jawa Timur berharap Badan Urusan Logistik bisa memanajemennya dengan baik.
Hal ini dikemukakan Penjabat Gubernur Adhy Karyono, usai acara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), HUT ke-62 Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas), dan HUT ke-105 Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, di Jember Sport Garden, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu, (6/2/2024).
Adhy mengatakan, Jawa Timur surplus 3,1 juta tom beras dalam setahun. “Tapi kami menyuplai 20 provinsi lain yang tidak bisa kita biarkan. Wilayah Indonesia timur kalau tidak ada beras dari Jawa Timur, juga sulit. Maka mekanisme pasarlah yang membuat seperti itu,” katanya.
Menurut Adhy, beras impor masuk melalui 14 titik di Indonesia, termasuk Pelabuhan Tanjung Perak dan Probolinggo. “Itu untuk menambah kebutuhan bantuan sosial beras yang dilakukan Bapanas (Badan Pangan Nasional). Sementara stok kita sendiri sudah cukup. Sebagian untuk stok, sebagian untuk bansos sampai Juli,” katanya.
Adhy mengatakan, masuknya beras impor tidak merugikan petani. “Petani sekarang dengan NTP Rp 7 ribu per kilogram sudah tinggi. Sekarang bagaimana menjaga kemampuan ekonomi masyarakat yang bukan petani,” katanya.
Kini semua tergantung pada Badan Urusan Logistik untuk memanajemen pasokan beras impor tersebut. “Kalau kita menggunakan mekanisme pasar, terutama yang premium, mungkin kita tidak bisa mencegah distributor menjual keluar karena harga jual lebih tinggi, seperti ke NTT, NTB, Kalimantan, sampai ke Babel. Tapi Bulog bisa menjaga stok di 40 gudangnya dan mengisi pasar-pasar dengan beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) dan ritel modern,” kata Adhy.
Adhy menegaskan, ritel modern sudah masuk ke pasar karena beras dijual dengan harga eceran. “Itu bagian dari upaya menekan harga. Alhamdulillah, per hari ini harga beras sudah mulai turun. Kalau pun ada kenaikan, masih di ambang batas,” katanya.
Lebih lanjut, Adhy memastikan persediaan barang pokok penting menjelang Ramadan dan lebaran di Jatim masih mencukupi. “Pertama, beras, kalau lihat stoknya di Bulog dan pasar-pasar induk sudah cukup, sekitar 150 ribu-an ton. Dan sekarang sedang masuk lagi hampir 300 ribu ton lagi,” katanya.
Harga beras juga sudah mulai turun, karena harga gabah kering giling sudah di bawah Rp 7 ribu per kilogram. “Dibandingkan dengan provinsi lain, harga beras medium dan premium di Jatim masih lebih rendah,” kata Adhy.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur saat ini mewaspadai inflasi yang diakibatkan persediaan cabai rawit, cabai besar, dan bawang. “Yang kami lakukan adalah operasi pasar bersama Satuan Tugas Pangan. Kemudian pasar murah, termasuk di Jember. Semua harus massif, bukan hanya provinsi, kabupaten, tapi juga stakeholder lain,” kata Adhy.
Adhy berjanji mengecek keliling kesiapan persediaan bahan bakar minyak dan elpiji. “Kami pastikan cukup. Meskipun kenaikan kebutuhan elpiji 7,7 persen dan BBM hampir 16 persen, tapi ketersediaan dan stok dari Surabaya sebagai kilang utama yang terhubung dengan Depo Tuban, itu bisa mengalir kapanpun,” katanya.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur punya satuan tugas untuk memonitor kekurangan bahan bakar dan titik-titiknya. “Juga ada tambahan layanan, baik dari mobile untuk BBM sementara dan satuan khusus untuk melihat persoalan, seperti ketika terjadi bencana. Insyaallah aman,” kata Adhy. [wir]






