Blitar (beritajatim.com) – Janji Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar untuk memberikan seragam sekolah gratis bagi siswa baru belum terealisasi. Hingga pertengahan Agustus, seragam yang sangat dinanti para wali murid masih tertahan di gudang penyedia.
Kondisi ini membuat sejumlah orang tua harus merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli seragam anaknya secara mandiri. Hal ini terjadi setelah seragam gratis yang dinantikan tak kunjung dibagikan.
Ali Ridho, seorang wali murid dari Desa Soso, Kecamatan Gandusari, mengaku terpaksa mengeluarkan uang hingga Rp.800 ribu untuk membeli seragam anaknya. Biaya tersebut digunakan untuk seragam putih-merah, pramuka, dan olahraga.
“Satu paket seragam habis sekitar Rp 800 ribu. Itu sudah termasuk putih merah, pramuka, dan olahraga. Kata pihak sekolah nanti diganti dengan seragam sekolah gratis,” ungkap Ali, Jumat (22/08/2025).
Ali menjadi satu dari ribuan wali murid di Kabupaten Blitar yang kecewa akan keterlambatan pembagian baju seragam ini. Pasalnya dengan adanya penundaan ini, bantuan seragam akan terasa tak ada gunanya, karena pasti orang tua siswa telah membelikan baju terlebih dahulu.
“Kalau memang ada program seragam gratis, ya jangan ditunda. Kami berharap segera dibagikan karena anak-anak sudah butuh,” tutupnya dengan nada kecewa.
Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Blitar, Deni Setiawan menjelaskan bahwa penundaan ini bukanlah karena masalah administrasi. Kontrak dengan penyedia seragam memang berlaku hingga September, sehingga proses pengadaan masih berjalan sesuai jadwal.
“Kontraknya memang sampai September. Jadi tidak ada kendala administratif. Saat ini kami menunggu hasil uji laboratorium,” kata Deni, Rabu (20/8).
Deni menjelaskan bahwa uji kualitas bahan dilakukan secara ketat. Pihak Dispendik Kabupaten Blitar mengambil sampel kain secara acak dari penyedia untuk diuji di laboratorium independen. Proses ini dilakukan dua kali untuk memastikan hasil yang akurat. Langkah ini merupakan evaluasi dari permasalahan tahun lalu, di mana ada kasus seragam yang ukurannya tidak sesuai dan jumlahnya kurang.
“Yang jelas seragam pasti dibagikan. Tidak ada pembatalan program. Kalaupun ada keterlambatan, ada sanksi untuk penyedia. Jadi, orang tua tidak perlu khawatir,” tandasnya.
Deni menjamin bahwa seragam pasti akan dibagikan sebelum batas akhir kontrak. Jika penyedia terlambat, mereka akan dikenai denda. “Orang tua tidak perlu khawatir,” pungkasnya. [owi/aje]






