Madiun (beritajatim.com) – Tim kaji cepat dari Departemen Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya melakukan penelitian terkait fenomena retakan tanah di Desa Mendak, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun. Hasil awal menunjukkan retakan cukup luas dan berpotensi memicu longsor.
Ketua Tim Kaji Cepat Geofisika ITS, Haris Miftakhul, mengatakan retakan tanah di Mendak menyebar hingga sekitar 50 meter dengan pola vertikal.
“Beberapa pondasi rumah sudah mengalami penurunan. Dari hasil pengamatan kami, tanah di kawasan ini sudah sangat lapuk,” ujar Haris, Jumat (7/11/2025).
Menurut Haris, struktur batuan dasar di wilayah itu berupa breksi yang seharusnya cukup keras jika masih segar, namun pelapukan intensif membuat kekuatannya menurun drastis. Ketebalan lapukan diperkirakan mencapai 10 meter. Kondisi ini diperparah karena lokasi Mendak berdekatan dengan kawasan panas bumi Ngebel, yang mempercepat proses pelapukan.
Berdasarkan catatan warga, retakan serupa pernah muncul pada 2004 dan 2014, bahkan sempat memicu longsor. Haris menekankan, indikasi pergerakan tanah berulang ini harus menjadi perhatian serius semua pihak.
“Artinya, ada indikasi pergerakan tanah berulang. Ini harus jadi perhatian serius semua pihak,” tegasnya.
Sebagai langkah antisipasi, ITS merekomendasikan warga memperhatikan saluran air rumah tangga yang masih terbuka, karena air dari kegiatan sehari-hari seperti mencuci atau membersihkan rumah dapat meresap ke tanah dan mempercepat retakan.
“Tidak perlu menunggu hujan, air dari aktivitas sehari-hari saja bisa membuat tanah makin jenuh,” jelas Haris.
Selain itu, tim ITS menyarankan pemasangan sistem peringatan dini (Early Warning System/EWS) untuk memantau pergerakan tanah di kawasan tersebut. “Ini langkah awal untuk mitigasi. Minimal ada alat pemantau yang bisa memberikan peringatan dini bagi warga,” pungkasnya. [rbr/beq]






