Blitar (beritajatim.com) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Blitar kini membawa angin segar yang tidak hanya berdampak pada perbaikan gizi anak-anak, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan peternak ayam petelur lokal. Pasalnya saat ini kebutuhan pasokan lauk pauk untuk program tersebut akhirnya menemui titik terang setelah Mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bersama asosiasi dan koperasi peternak telur rakyat Blitar menyepakati kerja sama strategis dengan patokan harga Rp24.000 per kilogram.
Kesepakatan krusial ini ditandatangani dalam Rapat Supply Chain Telur yang difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten Blitar di Ruang Candi Penataran Kantor Bupati Blitar. Dalam nota kesepahaman tersebut, Mitra SPPG berkomitmen penuh untuk menjadikan telur sebagai salah satu lauk wajib dalam menu MBG, dengan frekuensi minimal dua kali dalam sepekan.
Sebagai imbal baliknya, para peternak menggaransi ketersediaan pasokan. Para peternak rakyat ini siap mendistribusikan telur segar berkualitas langsung ke dapur-dapur pelayanan sesuai dengan standar mutu yang telah disepakati bersama
Wakil Bupati Blitar, Beky Herdihansah, menyambut baik kolaborasi hulu ke hilir ini. Ia menyebut kesepakatan tersebut sebagai momentum emas yang berhasil mengawinkan kebutuhan program strategis pemerintah dengan besarnya potensi produksi daerah.
Sebagai salah satu lumbung telur nasional, Kabupaten Blitar dinilai memiliki kapasitas produksi yang sangat mumpuni, sehingga sudah sepatutnya potensi ini dihubungkan dengan pasar yang jelas dan berkelanjutan.
“Kita berharap kebutuhan telur untuk SPPG semakin banyak dipenuhi oleh peternak Kabupaten Blitar melalui koperasi maupun kelembagaan peternak yang sudah ada. Dengan begitu, nilai tambah ekonomi yang tercipta dapat berputar di daerah sendiri dan memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat,”
tegas Beky, Senin (8/6/2026).
Lebih lanjut, Beky menekankan bahwa parameter keberhasilan Program MBG tidak boleh hanya dilihat dari satu sisi. Program ini harus mampu menebar manfaat ganda yakni selain dirasakan oleh pelajar sebagai penerima manfaat gizi, juga harus dirasakan oleh para pelaku usaha lokal yang dilibatkan langsung dalam rantai pasoknya
Senada dengan optimisme tersebut, Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan, Maino Dwi Hartono, memandang skema ini sebagai langkah awal yang krusial untuk memperluas akses pasar bagi peternak rakyat. Menurutnya, kepastian serapan dari SPPG ini tidak hanya mengamankan pasar, tetapi juga menyehatkan iklim usaha peternak yang kerap diguncang fluktuasi harga.
Maino menjelaskan bahwa patokan harga Rp24.000 per kilogram merupakan harga perdana. Ke depannya, nominal tersebut bersifat dinamis dan akan disesuaikan secara bertahap mengikuti pergerakan Harga Acuan Pemerintah (HAP).
“Harapannya seluruh SPPG dapat menyerap langsung telur dari peternak melalui koperasi. Meskipun volumenya mungkin belum langsung besar di awal, paling tidak ini memberikan sinyal positif bagi pasar dan sangat membantu dalam memperkuat posisi peternak kita,” ungkap Maino.
Sebagai tindak lanjut, kesepakatan payung ini akan segera diturunkan menjadi perjanjian teknis yang lebih terperinci antara masing-masing koperasi peternak dan pihak SPPG. Berbagai detail operasional seperti pembagian kuota pasokan harian, manajemen jadwal pengiriman, hingga tata cara pembayaran yang akuntabel akan diatur lebih lanjut untuk memastikan kelancaran program.
Lewat sinergi yang terbangun rapi ini, Pemerintah Kabupaten Blitar menaruh harapan besar agar Program Makan Bergizi Gratis benar-benar menjadi motor penggerak ganda yakni mencetak generasi yang cerdas dan sehat, sekaligus memutar roda ekonomi kerakyatan di tanah sendiri. (owi/aje)






