Malang (beritajatim.com) – Fenomena unik terjadi di pasar komoditas hortikultura Jawa Timur. Di tengah gempuran buah-buahan impor dari Thailand, Malaysia, hingga Vietnam, durian lokal justru menunjukkan taringnya.
Berbeda dengan tomat, kubis, atau cabai yang harganya kerap terjun bebas saat panen raya, harga durian lokal terpantau stabil dan tetap bernilai tinggi.
Mengapa durian lokal memiliki imunitas ekonomi yang begitu kuat? Dr. Sujarwo, S.P., M.P., pakar ketahanan pangan dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB), memberikan analisis mendalam mengenai fenomena ini.
Menurut Sujarwo, ketahanan durian lokal di pasar tidak bisa dilihat dari kacamata persaingan harga semata. Ia menjelaskan bahwa produk lokal yang telah memenangkan hati konsumen, seperti durian, secara perilaku ekonomi tidak sedang bertarung head-to-head (berhadapan langsung) dengan produk impor.
“Durian lokal bermain pada pasar yang spesifik di masyarakat. Konsumen tetap lebih menyukainya meskipun ada durian impor,” ungkap dosen pertanian UB tersebut.

Kunci utamanya terletak pada keunikan cita rasa dan kualitas lokal yang otentik. Dr. Sujarwo menyebutkan istilah Geographical Brand, sebuah positioning atau penempatan citra produk berdasarkan kewilayahan yang menentukan kesanggupan konsumen untuk membayar (willingness to pay).
Dr. Sujarwo, S.P., M.P., pakar ketahanan pangan dari UB (Foto: Doc Pribadi)
“Semakin unik dan disukai, meskipun itu lokal, maka tetap akan mengundang pembeli. Produk seperti ini sangat sulit diganti di pasar. Uniqueness product yang disukai konsumen menjadi atribut kompetitif produk itu, sehingga produk ini tidak bersaing dalam harga,” jelas Sujarwo.
Ia menganalogikan durian dengan kopi. Kopi yang dihasilkan daerah tertentu memiliki kekhasan yang jika sudah memenuhi preferensi konsumen, akan sangat sulit digantikan oleh produk lain. Inilah yang membuat permintaan terhadap durian lokal bersifat inelastis atau tidak mudah goyah oleh perubahan harga maupun suplai pesaing.
Latar belakang ketahanan durian ini memang menarik untuk disimak. Durian adalah buah lintas kelas sosial; disukai mulai dari kaum papa, kelas menengah, hingga orang kaya raya.
Di Jawa Timur, siklus panen durian biasanya berlangsung maraton mulai bulan Desember, Januari, Februari, Maret, hingga April.
Sentra-sentra produksi durian mengalami panen besar-besaran. Namun, sejarah mencatat bahwa kita hampir tidak pernah mendengar harga durian anjlok drastis hingga merugikan petani.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan nasib petani sayur mayur yang kerap membuang hasil panen karena harga yang hancur di tingkat tengkulak. Harga durian dari tahun ke tahun tetap stabil dan menguntungkan, kendati varian durian impor terus membanjiri pasar modern dan pasar tradisional.
Secara geografis, tidak semua wilayah di Jawa Timur mampu menghasilkan durian berkualitas. Tanaman ini mensyaratkan lahan dengan ketinggian tertentu (dataran tinggi/medium) untuk bisa tumbuh optimal dan menghasilkan buah yang lebat dengan rasa manis, pahit, dan legit yang pas.
Beberapa daerah yang menjadi benteng pertahanan durian lokal di Jawa Timur antara lain. Kabupaten Jombang: Terkenal dengan Durian Wonosalam. Kabupaten Pasuruan: Dengan sentra di Lumbang, Pasrepan, dan Tutur. Kabupaten Ponorogo: Ikonik dengan Durian Ngebel. Kabupaten Madiun: Terkenal dengan varian dari Dolopo. Kabupaten Blitar: Dengan sentra di daerah Srengat.
Apa yang membuat durian lokal tak tergeser oleh durian Montong atau Musang King impor? Jawabannya ada pada sensasi rasa.
Durian lokal memiliki tempat istimewa di hati konsumen karena rasanya yang khas: perpaduan (mix) antara rasa manis dan sedikit pahit yang menjadi satu.
Selain itu, antarvarian durian lokal memiliki karakteristik rasa yang beragam, memberikan petualangan rasa dan sensasi tersendiri bagi para penikmatnya.
Ketahanan durian lokal membuktikan bahwa produk pertanian dalam negeri mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri, asalkan memiliki karakter kuat dan kualitas yang terjaga. Di tengah gelombang impor yang datang silih berganti, durian lokal terbukti tahan banting, survive, dan terus menjadi primadona. (dan/ted)






