Surabaya (beritajatim.com) – Ada yang berbeda di Traffic Light (TL) Rungkut Industri, Sabtu (26/7/2025) pagi. Tampak 5 orang duduk di sepanjang zebra cross. Mereka tampak memiliki luka di bagian wajah. Sejumlah polisi pun mengerubungi kelima orang tersebut.
Namun ternyata, itu adalah bagian aksi teatrikal dari anggota Polsek Tenggilis Mejoyo Surabaya. Aksi kesenian itu menjadi media bagi petugas polisi untuk mensosialisasikan bahaya pelanggaran lalu lintas dalam rangka operasi Patuh Semeru 2025.
“Ini pendekatan secara humanis dan kreatif yang dilakukan oleh petugas kepolisian. Seru aja. Juga menghibur para pengendara yang nunggu lampu merah untuk jalan kembali,” kata Dimas salah satu pengendara yang menyaksikan aksi sosialisasi tersebut.
Selain disuguhi aksi teatrikal korban kecelakaan, petugas juga memberikan sosialisasi dengan membentangkan banner yang bertuliskan himbauan untuk tidak melanggar peraturan lalu lintas. Selain itu, para pengendara yang beruntung juga mendapatkan bunga mawar dan coklat secara gratis.
“Kegiatan hari ini merupakan upaya preventif dari kami kepolisian untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas,” kata Kapolsek Tenggilis Mejoyo AKP Prastya Yana Wisesa.
Prastya menjelaskan pada Operasi Patuh Semeru pada tahun 2025 ada tujuh pelanggaran prioritas yang menjadi atensi. Diantaranya mengemudi melawan arus, pengemudi dibawah umur, tidak menggunakan helm, menggunakan handphone saat berkendara, berboncengan lebih dari satu, kendaraan berknalpot brong, berkendara melebihi batas kecepatan.
“Kami juga mengkampanyekan bahaya balap liar serta memberikan ucapan terima kasih kepada pengendara yang telah tertib berlalu lintas,” jelas Prastya.
Kegiatan sosialisasi dengan teatrikal ini diikuti oleh semua personil dari Polsek Tenggilis Mejoyo, pekerja harian, dan melibatkan sejumlah talent dari masyarakat. Rangkaian teatrikal ini juga momen penutup Operasi Patuh Semeru 2025.
“Kami ucapkan apresiasi setinggi-tingginya terhadap masyarakat yang telah patuh dan tertib berkendara di wilayah hukum Polsek Tenggilis Mejoyo,” pungkas Prastya. (ang/ian)






