Surabaya (beritajatim.com) – Memasuki awal tahun 2026, pelaku usaha ritel di Kota Surabaya menunjukkan optimisme. Bank Indonesia (BI) memprakirakan aktivitas belanja masyarakat akan mengalami lonjakan signifikan pada Februari mendatang, didorong oleh momentum perayaan Tahun Baru Imlek.
Berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) terbaru dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) untuk Februari 2026 diprediksi meroket ke angka 175,6, naik dari level 174,4 pada Januari 2026.
Meningkatnya angka ekspektasi ini menandakan keyakinan pedagang eceran bahwa permintaan pasar akan tetap solid. Perayaan Imlek di Surabaya, yang dikenal memiliki basis massa dan komunitas yang kuat, diprediksi menjadi motor penggerak utama pada sektor makanan, minuman, hingga sandang.
Namun, di balik optimisme tersebut, Bank Indonesia memberikan catatan penting bagi konsumen. Lonjakan permintaan ini diperkirakan akan dibarengi dengan kenaikan harga barang di pasar.
“Masyarakat perlu mencermati potensi tekanan harga pada Februari 2026. Indeks Ekspektasi Harga Umum diprediksi meningkat menjadi 169,5, naik cukup signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 158,5,” ungkap Ibrahim, Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur dalam keterangan resminya, Jumat (16/1/2026).
Optimisme tahun 2026 ini berlandaskan pada performa penutup tahun 2025 yang impresif. Pada Desember 2025, Indeks Penjualan Riil (IPR) Surabaya diprakirakan mencapai 500,4 atau tumbuh 17,0% (yoy). Meski melambat dibanding November, angka ini membuktikan daya beli warga Surabaya masih sangat bertenaga di tengah fluktuasi ekonomi nasional.
Tantangan di Pertengahan Tahun 2026
Melihat proyeksi jangka menengah, Bank Indonesia memprediksi akan terjadi normalisasi aktivitas belanja pada Mei 2026. Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) pada periode tersebut diperkirakan melandai ke angka 161,0.
Penurunan ini bukan disebabkan oleh melemahnya daya beli, melainkan faktor kalender. Banyaknya hari libur dan cuti bersama dalam rangka HBKN Idul Adha serta Hari Raya Waisak diprakirakan akan mengurangi jumlah hari operasional efektif penjualan ritel.
Kabar baiknya, meskipun volume penjualan sedikit melambat di bulan Mei, tingkat harga diprediksi akan lebih stabil dibandingkan gejolak yang mungkin terjadi pada masa Imlek di bulan Februari.[rea]






