Surabaya (beritajatim.com) – Ikatan Alumni SMA Negeri 4 Surabaya (Ikatetrasma) menggelar acara bersepeda bersama dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, Minggu (6/10/2022). Bertema Gowes Pahlawan, acara diikuti oleh sejumlah komunitas sepeda dan lintas alumni antar sekolah. Antara lain Paguyuban Sejoli (Komunitas Sepeda Kuno), Komunitas Arek Lawas Surabaya (Alas), dan Arewin.
Kemudian, juga ada alumni SMA Negeri 1 Surabaya, SMA Negeri 3 Surabaya, SMA Negeri 5 Surabaya, SMA Negeri 6 Surabaya, SMA Negeri 8 Surabaya, SMA Negeri 9 Surabaya, dan SMA Negeri 4 Surabaya sebagai pelaksana kegiatan. Mereka juga memakai beragam kostum. Seperti pejuang, hanoman, dan baju daerah.
Rute gowes mengambil start dari Monumen Kapal Selam (Monkasel) Jalan Pemuda Surabaya menuju Monumen Bambu Runcing, Monumen Karapan Sapi Jalan Basuki Rahmat, Jalan Embong Malang dan Jembatan Merah. Dari Monkasel, peserta gowes berhenti sejenak di Monumen Bambu Runcing Jalan Panglima Sudirman. Seluruh peserta mengabadikan foto bersama berlatar monumen bersejarah tersebut.
[berita-terkait number=”3″ tag=”gowes”]
Monumen Bambu Runcing sendiri melambangkan semangat Arek-arek Suroboyo dalam berjuang melawan penjajahan Belanda dengan senjata seadanya. Senjata tradisionial mayoritas saat itu adalah bambu. Ujung-ujung bambu kemudian dibentuk meruncing, supaya tajam dan bisa digunakan untuk menikam musuh.
Setelah puas berfoto bersama di depan Bambu Runcing, peserta melanjutkan perjalanan mengayuh menuju Jalan Basuki Rahmat yang dikenal sebagai jantung kota.
Pada kesempatan tersebut, Ketua Ikatetrasma Lukitasari mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan sebagai momentum menyambut perayaan Hari Pahlawan 2022. “Kita semua ikut berpartisipasi dalam menggaungkan semangat dan nilai kepahlawanan dengan mengadakan kegiatan Gowes Pahlawan,” kata Lukitasari.
Momentum Hari Pahlawan ini sekaligus untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa sesuai dengan tagline acara. “Kita jadikan semangat Hari Pahlawan ini dari nilai-nilai kepahlawanan sebagai inspirasi di dalam tiap langkah kehidupan kita mencontoh keteladanan para pahlawan yang telah berjuang tanpa pamrih,” tambahnya.
Selain itu, Lukitasari berharap peringatan Hari Pahlawan bukan hanya sekadar seremonial semata. Namun, lebih dari itu. Masyarakat Bangsa Indonesia dapat mengambil hikmah perjuangan dan pengorbanan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan. “Semoga dapat menginspirasi kita untuk meneruskan pembangunan dan kemerdekaan,” ucap Ketua Ikatetrasma Lukitasari.
Hari Pahlawan diperingati bangsa Indonesia setiap 10 November berdasarkan Keputusan Presiden No 316 Tahun 1959, tentang Hari Nasional yang Bukan Hari Libur dan ditandatangani oleh Presiden Soekarno. Penetapan Hari Pahlawan tak lepas dari perjuangan para pahlawan melawan tentara Sekutu. Saat itu, pertempuran berlangsung selama tiga minggu di Surabaya. Puncaknya terjadi pada 10 November 1945.
Sebagaimana dilansir dari pedoman Hari pahlawan Nasional, tanggal 10 November 1945 terjadi pertempuran di Surabaya yang merupakan pertempuran besar antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Inggris.
Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.
Setelah gencatan senjata antara pihak Indonesia dan pihak tentara Inggris ditandatangani tanggal 29 Oktober 1945, keadaan berangsur-angsur mereda. Walaupun begitu tetap saja terjadi bentrokan-bentrokan bersenjata antara rakyat dan tentara Inggris di Surabaya.
Bentrokan-bentrokan tersebut memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby (Pimpinan Tentara Inggris untuk Jawa Timur) pada 30 Oktober 1945.
Kematian Jendral Mallaby ini menyebabkan pihak Inggris marah kepada pihak Indonesia dan berakibat pada keputusan pengganti Mallaby yaitu Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh mengeluarkan Ultimatum 10 November 1945 yang meminta pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan pada tentara AFNEI dan administrasi NICA serta ancaman akan menggempur kota Surabaya dari darat, laut, dan udara apabila orang orang Indonesia tidak mentaati perintah Inggris.
[berita-terkait number=”3″ tag=”hari-pahlawan”]
Mereka juga mengeluarkan instruksi yang isinya bahwa semua pimpinan bangsa Indonesia dan para pemuda di Surabaya harus datang selambat-lambatnya tanggal 10 November 1945, pukul 06.00 pagi pada tempat yang telah ditentukan.
Namun ultimatum itu tidak ditaati oleh rakyat Surabaya, sehingga terjadilah pertempuran Surabaya yang sangat dahsyat pada tanggal 10 November 1945, selama lebih kurang tiga minggu lamanya. Medan perang Surabaya kemudian mendapat julukan “neraka” karena kerugian yang disebabkan tidaklah sedikit.
Pertempuran tersebut telah mengakibatkan sekitar 20.000 rakyat Surabaya menjadi korban, sebagian besar adalah warga sipil. Selain itu diperkirakan 150.000 orang terpaksa meninggalkan kota Surabaya dan tercatat sekitar 1600 orang prajurit Inggris tewas, hilang dan luka-luka serta puluhan alat perang rusak dan hancur.
Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat yang menjadi korban ketika itu serta semangat membara tak kenal menyerah yang ditunjukkan rakyat Surabaya, membuat Inggris serasa terpanggang di neraka dan membuat Kota Surabaya kemudian dikenang sebagai Kota Pahlawan dan 10 November sebagai Hari Pahlawan.
Guna menyambut Peringatan Hari Pahlawan tersebut, Ikatan Alumni SMA Negeri 4 Surabaya (Ikatetrasma) menggelar acara bersepeda bersama lintas alumni antar sekolah dan komunitas. [tok/suf]







