Jakarta (beritajatim.com) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat di level 7.214 pada Jumat (23/5), naik 1,4 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Kenaikan ini ditopang oleh aksi beli bersih asing (net buy) sebesar Rp2 triliun di pasar reguler, yang merupakan angka tertinggi dalam lima pekan terakhir dan lebih dari dua kali lipat rata-rata inflow mingguan sejak April.
Secara teknikal, IHSG saat ini berada di atas level psikologis 7.000, menandakan meningkatnya kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
“Meskipun begitu investor juga harus tetap waspada, karena ada resistance penting di level 7.400, yang sebelumnya menjadi area yang diuji berkali-kali, sebelum akhirnya IHSG mencetak all time high di level 7.800 pada September 2024 lalu,” tegas Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan.
David menjelaskan bahwa pergerakan IHSG pada pekan lalu dipengaruhi oleh sentimen global dan domestik. Dari sisi global, kebijakan tarif Presiden Donald Trump dan lonjakan harga emas menjadi faktor penting. Trump mengumumkan tarif impor sebesar 50 persen terhadap produk Uni Eropa mulai 1 Juni 2025, dengan alasan ketidakseimbangan perdagangan. Inggris dikecualikan dari kebijakan ini karena telah memiliki perjanjian dagang pasca-Brexit dengan Amerika Serikat.
Sementara itu, ketidakpastian ekonomi global turut mendorong investor melirik aset safe haven seperti emas. Permintaan terhadap emas meningkat signifikan, dengan pengeluaran global untuk logam mulia tersebut mencapai 0,5 persen dari PDB dunia, tertinggi dalam 50 tahun terakhir.
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari kebijakan Bank Indonesia yang menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada 21 Mei 2025. Ini merupakan pemangkasan pertama setelah tiga pertemuan berturut-turut mempertahankan suku bunga, dengan tujuan mendukung pertumbuhan ekonomi yang melambat di kuartal I 2025 sebesar 4,87 persen serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Menjelang pekan perdagangan yang hanya berlangsung tiga hari (26–28 Mei 2025) karena libur dan cuti bersama Hari Kenaikan Yesus Kristus, David mengingatkan pentingnya mencermati dua katalis kunci, yakni Rebalancing Index MSCI dan aliran dana asing.
“Rebalancing Indeks MSCI yang dijadwalkan pada akhir Mei 2025 dapat memengaruhi aliran dana asing ke pasar saham Indonesia. Investor asing diperkirakan akan menyesuaikan portofolio mereka sesuai dengan perubahan bobot dalam indeks tersebut,” ujar David.
Selama pekan lalu, investor asing membukukan aksi beli bersih Rp2 triliun di pasar reguler, dengan saham-saham seperti BBRI, ANTM, BMRI, GOTO, dan BBCA menjadi pilihan utama, mencerminkan kepercayaan mereka terhadap pasar domestik.
Untuk merespons kondisi pasar dan dua katalis utama tersebut, IPOT memberikan sejumlah rekomendasi saham dan obligasi unggulan yang didukung fitur Booster Modal serta produk IPOT Bond:
- Buy MDKA (Current Price: 2.040, Target Price: 2.220, Stop Loss: 1.950, R/R Ratio: 1:2,0). Layak beli karena bergerak di atas MA5 dan potensi harga komoditas yang cenderung naik menjadi sentimen positif.
- Buy BBRI (Current Price: 4.350, Target Price: 4.700, Stop Loss: 4.200, R/R Ratio: 1:2,3). Baru saja mini breakout dan akumulasi asing menguat, didukung sentimen pemangkasan suku bunga.
- Buy NCKL (Current Price: 740, Target Price: 805, Stop Loss: 705, R/R Ratio: 1:1,9). Bergerak bullish dengan price action menarik dan sinyal MACD yang kembali menguat.
- Buy Obligasi FR0097 di IPOT Bond, dengan kupon 7,125 persen dan jatuh tempo 15 Juni 2043. Yield to maturity saat ini di level 6,9 persen, lebih menarik dari rata-rata obligasi negara 10 tahun (ID10Y) yang berada di kisaran 6,8%.
[beq]






