Surabaya (beritajatim.com) – Tim humas Husky-CNOOC Madura Limited (HCML) dan Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) sama-sama menunjukkan kepiawaian dalam pemberdayaan masyarakat pesisir Jawa Timur.
Dua perusahaan tersebut adalah Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) sektor hulu minyak dan gas bumi yang beroperasi di selat Madura. Mereka sama-sama menjadi nominator Jatim PR Award 2022 yang diselenggarakan Beritajatim.con, Pilar.id, Portal Communications yang berkolaborasi dengan Perhumas (Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia) Surabaya, sebuah organisasi profesi praktisi humas dan komunikasi Indonesia.
Dalam presentasi di hadapan empat orang juri via daring, Jumat (25/3/2022), Ali Aliyuddin dari HCML memaparkan sukses pemberdayaan masyarakat Desa Semare, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, melalui program cafe laut.
“Tujuan Cafe Laut Semare adalah menciptakan kebaikan dan manfaat bagi masyarakat sekitar operasi kami,” kata Ali di hadapan dewan juri yang terdiri atas Ketua Perhumas Surabaya Suko Widodo, Pemimpin Redaksi Beritajatim.com Dwi Eko Lokononto, Dewan Penasihat Badan Pengurus Pusat Perhumas Heri Rakhmadi, dan Usman Kansong, Direktorat Jenderal Infomasi dan Komunikasi Publik.
[berita-terkait number=”5″ tag=”PR-Jatim-Award”]
Cafe Laut Semare ini merupakan unit usaha Badan Usaha Milik Desa Semare yang bergerak di bidang kuliner dan kepariwisataan dengan memanfaatkan potensi laut sejak 2018. “Di tahun-tahun sebelum berdirinya Cafe Laut Semare, Desa Semare dikenal dengan insiden tawuran antardesa. Tingkat pengangguran usia produktif di Desa Semare cukup tinggi,” kata Ali.
Cafe Laut Semare merupakan implementasi dari integrasi tiga pilar utama yang terus dikembangkan HCML dan BUMDesa Semare. Pertama, Social Community Pillars yang berfokus pada partisipasi aktivitas berbasis komunitas melalui pembelajaran sosial danpeningkatan kapasitas untuk meningkatkan perekonomian desa.
Kedua, Economy Pillars, yang berfokus pada pendekatan manajemen untuk inovasi entrepreneurship di bidang food and beverage berbasis desa wisata. “Ketiga, Environment Pillars yang berfokus pada pendekatan ekologis untuk setiap aktivitas green living di sekitar wilayah cafe dan laut Semare dalam upaya pemanfaatan potensi laut Desa Semare,” kata Ali.
Menurut Ali, HCML percaya melalui pembelajaran sosial, pemberdayaan ekonomi komunitas, partisipasi, serta komitmen yang tinggi dari seluruh Warga Desa Semare, peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan dapat terwujud.
Sementara itu, Felicia Irliani dari PHE WMO menjelaskan, program Si Kaya Berbagi adalah akronim dari program Konservasi Pendidikan Budaya Berbasis Teknologi. “Program ini dilatarbelakangi hilangnya fungsi utama hutan mangrove dan rusaknya terumbu karang di Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan,” katanya.
Hal ini dipicu oleh banyaknya nelayan di luar Madura yang menggunakan bom dan pukat, membuat habitat ikan rusakm dan menyebabkan kurangnya tangkapan ikan. Hal tersebut menyebabkan masyarakat beralih ke perburuan mangrove untuk dijadikan kayu bakar, dijual serta dijadikan bonsai menurut kepercayaan lokal.
Menurut Felicia, Labuhan menjadi lokasi abrasi tertinggi dibanding loma desa sekitar dengan tingkat kerusakan mangrove mencapai 17,5 hektare. Abrasi ini menyebabkan terjadi perubahan garis pantai sebesar minus 5,24 meter per tahun, serta banyaknya terumbu karang yang mati seluas 125,35 hektare. Akibatnya jarak tempuh nelayan tradisional semakin jauh lebih dari 30 kilometer dengan hasil tangkapan yang rendah.
PHE WMO ingin memperbaiki kondisi mangrove dan terumbu karang, serta meningkatkan keragaman flora dan fauna yang berstatus near threatened dan endangered. “Tujuan kami juga menjadikan Desa Labuhan sebagai desa percontohan dalam menggerakan kegiatan pendidikan berbasis lingkungan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat melalui wisata dan produk olahan,” kata Felicia.
Selain itu, PHE WMO ingin meningkatkan sinergi dengan masyarakat dan stakeholder untuk mencapai suatu kemandirian dan kebangkitan wisata di tengah pandemi. “Kami ingin meningkatkan kesadaran masyarakat untuk konservasi dan mencintai lingkungan,” kata Felicia.
Ali dan Felicia sama-sama mengandalkan kerjasama dengan media massa sebagai ujung tombak. “Kami membangun hubungan baik dengan stakeholder. Kami sering mengadakan gathering bersama media yang jadi agenda rutin. Kami berharap didukung pemberitaan seimbang baik level lokal dan nasional,” kata Felicia.
Sementara itu, Ali menekankan hubungan baik dengan media berbasis virtual. “Saat era digital makin berkembang pesat, tentu saja yang jadi prioritas kami adalah media berbasis virtual. Kami menyadari bahwa kekuatan media berbasis virtual, cukup luar biasa pengaruhnya,” katanya. [wir/kun]






